Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Santap Makanan Donasi yang Diolah Kembali, Sembilan Anak Panti Asuhan di Borobudur Alami Gejala Keracunan

Naila Nihayah • Senin, 22 Juni 2026 | 20:02 WIB
Sempat Alami Halusinasi, Korban Dugaan Keracunan di Borobudur Dirawat di RS Aisyiyah Muntilan
Sempat Alami Halusinasi, Korban Dugaan Keracunan di Borobudur Dirawat di RS Aisyiyah Muntilan

 
MUNGKID - Sebanyak sembilan anak penghuni panti asuhan di wilayah Borobudur diduga mengalami keracunan makanan usai mengonsumsi olahan nasi goreng dari makanan donasi. Para korban dilarikan ke Rumah Sakit Aisyiyah Muntilan setelah mengalami gejala muntah, diare, hingga kondisi fisik melemah.

Ketua Panti Asuhan Muhammadiyah Borobudur, Yus Listiawan menjelaskan, kejadian bermula dari makanan donasi yang diterima pada Minggu (21/6) siang. Makanan berupa nasi, telur, dan bihun tersebut tidak langsung dikonsumsi, melainkan diolah kembali menjadi nasi goreng untuk santapan malam anak-anak yang sedang bertugas piket.

"Karena masih ada sisa, kemudian diolah kembali menjadi nasi goreng untuk makan malam. Yang mengonsumsi ada 14 anak," kata Yus saat ditemui.

Baca Juga: Mahasiswa Muhammadiyah Gelar Tapa Pepe di Titik Nol Jogja, Tuntut Evaluasi MBG, KDMP, dan Hentikan Militerisasi di Ruang Sipil

Dia menyebut, gejala awal mulai dirasakan pada Senin dini hari sekitar pukul 03.00. Namun, para anak tidak segera melaporkan kondisi tersebut kepada pengurus panti, sehingga penanganan terlambat dilakukan.

"Sejak (Senin) pagi sebenarnya sudah ada yang diare, tetapi tidak ada laporan. Baru siang hari mulai diketahui dan kondisinya semakin terlihat," terangnya.

Pihak panti sempat memberikan pertolongan pertama dengan meminta anak-anak memperbanyak konsumsi air guna mencegah dehidrasi. Namun, kondisi beberapa anak terus memburuk hingga akhirnya salah satu korban mengalami halusinasi pada sore hari.

Baca Juga: Usai Sukseskan MJM 2026, Motor Listrik ALVA Tancap Gas Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik di Yogyakarta

"Sekitar pukul 15.30 ada yang mulai halusinasi, kami langsung memanggil ambulans dan membawa mereka ke rumah sakit," jelasnya.

Dari total 14 anak yang mengonsumsi makanan tersebut, sembilan anak mengalami gejala cukup serius seperti muntah dan diare. Sementara lima lainnya tidak merasakan dampak berarti atau hanya mengalami gejala ringan.

Namun, kata Yus, pihak panti belum dapat memastikan penyebab pasti insiden ini. Mengingat tidak semua anak yang mengonsumsi makanan mengalami gejala serupa.

Baca Juga: Bukan Masalah Stok Batu Bara, Menteri ESDM Minta PLN Segera Tuntaskan Kendala Teknis Pemadaman Listrik

"Ini masih dugaan. Kami menunggu hasil pemeriksaan medis. Selama ini juga belum pernah ada kejadian seperti ini," bebernya.

Hingga Senin (22/6) malam, seluruh korban masih menjalani observasi medis untuk memastikan kondisi kesehatan mereka serta mencegah kemungkinan komplikasi lebih lanjut.

Seorang anak panti, Ayunda Setia Dewi, 14 mengaku, tidak menyadari adanya tanda-tanda makanan basi saat dikonsumsi bersama teman-temannya. Namun, keesokan harinya, banyak teman-temannya yang mulai mengalami diare dan muntah.

Baca Juga: Warga Padukuhan Kedungrong Kulon Progo Tak Khawatir Fenomena Byar-pet, Gunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro

"Waktu makan biasa saja, tidak terasa ada yang aneh. Tapi besoknya banyak yang mulai diare dan muntah," sebutnya.

Kapolsek Borobudur, AKP Anjar Prahasto mengutarakan, polisi segera mendatangi lokasi kejadian setelah menerima laporan adanya dugaan keracunan makanan di panti asuhan wilayah Desa Borobudur.

Berdasarkan hasil penelusuran awal, makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan merupakan jatah makan siang dari donatur. Kemudian dimasak kembali pada malam hari sebelum dikonsumsi para santri.

Baca Juga: Respons Orang Tua Kala MBG Diliburkan: Ada yang Minta Diuangkan, hingga Berharap Dialihkan untuk Sarana Pendidikan

"Setelah dimasak ulang dan dikonsumsi, sebagian anak mengeluh mual, muntah, dan diare. Dari jumlah yang makan, tidak semuanya mengalami gejala," paparnya.

Dia menyebut, sembilan anak mengalami keluhan kesehatan, sementara beberapa lainnya dalam kondisi normal. Sebagian besar korban telah mendapatkan penanganan medis di RS Aisyiyah Muntilan.

Anjar menyebut, polisi saat ini masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Termasuk menelusuri proses pengolahan makanan serta kondisi bahan makanan sebelum dikonsumsi. (aya)

Editor : Heru Pratomo
#panti asuhan muhammadiyah #Borobudur #nasi goreng #keracunan #muntilan