MAGELANG - Sedikitnya ada 200 mahasiswa asal Kota Magelang menerima beasiswa pendidikan. Masing-masing mendapatkan Rp 2,1 juta per tahun. Program yang digulirkan saban tahun ini tidak hanya sebagai penghargaan, tetapi juga intervensi untuk mencegah putus kuliah.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menilai, persoalan pendidikan masih menjadi titik krusial dalam lingkaran kemiskinan. Biaya kuliah yang tidak ringan kerap menjadi faktor penghambat, bahkan bagi mahasiswa dengan capaian akademik baik.
Menurutnya, pendidikan merupakan kunci untuk menyelesaikan banyak persoalan kehidupan, termasuk memutus rantai kemiskinan. "Karena itu, negara dalam hal ini pemerintah daerah harus hadir," kata Damar.
Baca Juga: Chapter Jogja 2026 Kembali ke JNM, Memperkuat Sirkulasi Ekosistem Seni Rupa Kontemporer Yogyakarta
Dia menekankan, dukungan terhadap pendidikan tidak berhenti pada aspek akademik semata, tetapi juga berkaitan dengan penguatan literasi dan karakter. Dia menilai, literasi yang baik akan melahirkan empati, dan empati menjadi dasar tumbuhnya kepedulian sosial.
Damar juga menekankan, beasiswa ini bukan sekadar bantuan pendidikan, tetapi apresiasi atas semangat belajar. "Harapannya, ini bisa menjadi pemicu untuk terus berkembang," ujarnya.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Magelang Imam Baihaqi menjelaskan, program ini menyasar mahasiswa berprestasi baik di bidang akademik maupun nonakademik. Seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan capaian serta latar belakang penerima.
Baca Juga: Ibu Minta Dimakamkan di Samping Ayah yang Pernah Menyakitinya, Luka Generasional yang Hancurkan Hati Anak-Anak, Novel Debut Kalis
Dia mengakui, selain mendorong iklim kompetisi yang sehat, program ini juga dirancang sebagai langkah preventif terhadap potensi mahasiswa berhenti kuliah karena kendala ekonomi. "Banyak mahasiswa berprestasi yang sebenarnya punya kemampuan, tetapi terkendala biaya," paparnya.
Dalam pelaksanaannya, pemkot menggandeng sembilan perguruan tinggi dan akademi, mulai dari kampus negeri hingga swasta. Di antaranya Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Tidar, hingga sejumlah sekolah tinggi kesehatan serta teknologi di wilayah Magelang dan sekitarnya.
Mahasiswa Universitas Tidar (Untidar) Nasywa Chirilda Meila Dona mengaku, bantuan tersebut cukup meringankan beban yang selama ini ia rasakan. "Harapannya program seperti ini bisa terus ada dan menjangkau lebih banyak mahasiswa," ucapnya. (aya)