Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Angkat Kisah Kelinci Bijak, Wayang Relief Borobudur Sarat Nilai Moral dan Spiritual

Naila Nihayah • Minggu, 21 Juni 2026 | 20:30 WIB
SARAT MAKNA: Wito memainkan wayang relief di Pendopo Museum dan Cagar Budaya (MCB), Sabtu (20/6). (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
SARAT MAKNA: Wito memainkan wayang relief di Pendopo Museum dan Cagar Budaya (MCB), Sabtu (20/6). (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
 
MUNGKID - Dalang sekaligus kreator Wito Prasetyo resmi memperkenalkan wayang relief. Sebuah bentuk pewayangan baru yang mengambil inspirasi dari relief Candi Borobudur. Inovasi ini menampilkan pementasan dengan mengangkat kisah Sasa Jataka atau Kelinci Bijak.

Wito menjelaskan, wayang relief ini tidak sekadar menghadirkan hiburan. Tetapi juga menjadi media penyampaian nilai-nilai luhur yang terkandung dalam relief Borobudur. Mulai dari pesan spiritual, moral, sosial, hingga pengetahuan kehidupan.

Berbeda dari wayang pada umumnya, bentuk wayang relief dibuat menyerupai figur-figur yang terpahat pada dinding candi. Iringan gamelan pun disesuaikan dengan gambaran alat musik yang juga tergambar dalam relief.

Selain itu, kata dia, penggunaan bahasa Indonesia menjadi ciri utama pertunjukan ini. Wito berharap, langkah tersebut menjadikan wayang relief sebagai wayang nasional yang dapat dipahami lintas daerah.
Baca Juga: Saat Yoga Bertemu Warisan Budaya Dunia di Pelataran Candi Borobudur, Peserta Rasakan Sensasi Menyatu dengan Alam

"Kami ingin ini bukan wayang kesukuan, tapi bisa dipakai seluruh rakyat Indonesia, dipelajari dan dipahami lebih mudah," ujarnya usai peluncuran, Sabtu (20/6).

Cerita yang diangkat dalam pementasan perdana berasal dari kisah Jataka, yaitu cerita-cerita kehidupan Bodhisattwa yang sarat ajaran kebajikan. Dalam kisah Sasa Jataka, tokoh utama adalah seekor kelinci bijak yang hidup bersama tiga sahabatnya, yakni berang-berang, kera, dan serigala.

Dia menjelaskan, kisah ini mengisahkan tentang ketulusan dan pengorbanan. Sang kelinci mengajarkan pentingnya berderma dan berbuat baik. Bahkan, dalam puncak cerita, ia rela mengorbankan dirinya demi memberi makan seorang tamu yang ternyata adalah Dewa Sakra yang menyamar sebagai Brahmana.

Wito menyebut, adegan-adegan dalam pementasan menggambarkan perjalanan batin, termasuk simbolisasi pertarungan antara kebaikan dan keraguan yang divisualisasikan melalui sosok raksasa. Pesan utamanya menegadkan bahwa kebenaran dan kebajikan adalah nilai universal yang akan selalu menemukan jalannya menuju kemenangan.
 
Baca Juga: Jepang Pesta Gol Dalam Pertandingan Ke-1000 Piala Dunia Saat Kalahkan Tunisia

"Ini bukan sekadar cerita. Kelinci mengajarkan Dasa Paramita, tentang kasih sayang, kebenaran, dan derma. Nilai-nilai ini universal, semua manusia mengakuinya," jelas Wito.

Wayang relief, lanjut dia, memiliki potensi cerita yang sangat luas. Wito menyebut, sumber kisah berasal dari berbagai panel relief Borobudur seperti Karmawibhangga, Jataka-Avadana, Lalitavistara, Gandavyuha, hingga Bhadracari.

Dari ribuan tokoh yang ada dalam relief tersebut, saat ini baru sebagian kecil yang diangkat ke dalam bentuk wayang. Untuk pementasan, baru lima tokoh utama yang digunakan, sementara untuk karya visual atau sunggingan telah dibuat sekitar 15 figur.

Dia menambahkan, keunikan lain dari wayang relief terletak pada bahan pembuatannya yang fleksibel. Selain kulit, wayang juga dibuat dari bahan alternatif seperti talang karpet hingga kertas semen yang dipres. "Yang penting bentuk dan modelnya, bukan bahan. Ini agar lebih mudah dikembangkan," terangnya.

Pementasan tersebut dikemas dalam durasi sekitar satu jam. Dengan alur yang telah disusun sistematis mulai dari pembukaan, pengantar cerita, hingga klimaks pengorbanan sang kelinci.
 
Baca Juga: Bukayo Saka Terus Berjuang untuk Fit Jelang Inggris Lawan Ghana di Piala Dunia 2026

Sub Koordinator MCB Unit Warisan Dunia Borobudur, Wiwit Kasiyati mengapresiasi inovasi tersebut sebagai bentuk aktualisasi nilai-nilai relief Borobudur ke dalam kehidupan modern. Dia melihat, wayang ini juga bisa menginspirasi seni lain, seperti tari, kuliner, bahkan pengobatan tradisional.

"Nilai-nilai dalam cerita Jataka sangat relevan sebagai media edukasi, khususnya bagi generasi muda yang mulai berjarak dengan pitutur atau nasihat tradisional," sebutnya.

Senada, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Magelang Wisnu Argo Budiono menyebut, wayang relief menjadi  bagian dari nguri-uri budaya. Sehingga keberadaannya perlu disosialisasikan dan diteruskan ke generasi muda.

"Cerita seperti Kelinci Bijak sangat potensial dijadikan media pembelajaran di sekolah, mulai dari PAUD hingga SMP, karena sarat nilai pendidikan karakter," lontarnya. (aya)
Editor : Sevtia Eka Novarita
#wito prasetyo #sasa jataka #wayang r elief #Candi Borobudur #dalang