KEBUMEN - Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang digagas pemerintah pusat belum menunjukkan progres signifikan. Kondisi ini membuat pengurus koperasi kelimpungan. Mereka bingung karena tidak ada kepastian kapan KDMP akan beroperasi.
Seperti diungkapkan Ketua KDMP Desa Peniron, Kecamatan Pejagoan Sukijan. Dia menyatakan, kondisi gedung koperasi sebenarnya telah siap digunakan. Pun termasuk empat unit kendaraan operasional telah diterima sebagai penunjang unit usaha. Namun demikian, aktivitas koperasi sampai sekarang belum berjalan.
"Cuma nonton soft launching saja, masih sama dua bulan lalu. Belum ada kegiatan sama sekali," ungkapnya kepada Radar Jogja, Rabu (17/6/2026).
Baca Juga: Indekos di Banguntapan Jadi Tempat Pesta Sabu, Polres Bantul Amankan Barang Bukti Seberat 87,83 Gram
Sukijan mengatakan, pengurus KDMP sejauh ini belum mendapat arahan cukup jelas terkait operasional koperasi. Di satu sisi mereka juga dihadapkan setumpuk regulasi yang perlu dicermati secara mendalam sebagai dasar pelaksanaan kegiatan usaha.
Dia juga bingung karena setelah proses pembangunan gedung rampung, barang-barang untuk melengkapi gerai serta peralatan administrasi tak kunjung dikirim. "Benar-benar belum bergerak," katanya.
Dia mengungkapkan, banyak kegundahan sejak dirinya ditunjuk sebagai ketua KDMP. Salah satu keresahan yang dirasakan mengenai suntikan permodalan. Per hari ini dia belum mengetahui pasti terkait penyertaan modal atau dana talangan yang diberikan untuk keberlangsungan KDMP.
Atas ketidakpastian ini koperasi yang dipimpinnya belum berani merekrut pegawai untuk ditempatkan di gerai maupun jenis usaha lain. Sejalan dengan itu juga belum ada kepastian soal manajer yang ditunjuk langsung dari pemerintah. "Kami sifatnya sekarang hanya menunggu," ucap Sukijan.
Terpisah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Putra Bangsa (UPB) Akhmad Syafrudin menyatakan, secara filosofis dan merujuk asas koperasi, program KDMP berpotensi besar akan menjadi pemantik perputaran ekonomi di tingkat desa.
Meski begitu, dia mengingatkan pentingnya manejemen yang matang dalam pengelolaan koperasi. Tanpa modal tersebut dia yakin KDMP akan sulit berkompetisi dengan tempat usaha yang telah lama berjalan.
"Bagus karena basisnya ekonomi kerakyatan. Tapi perlu paham anatomi pasar dan kebutuhan pasar," ujarnya.
Baca Juga: Badan Geologi: Hoaks, Gunung Lawu di Jawa Tengah Akan Erupsi Besar, Aktivitasnya Masih Normal
Syafrudin tidak begitu sepakat jika unit usaha KDMP hanya berfokus pada gerai toko dan usaha farmasi. Dia sempat menganalisa laba yang dihasilkan dari unit usaha tersebut tidak cukup untuk menutup tanggungan koperasi.
Justru dia melihat ada peluang menjanjikan yakni dengan pemanfaatan gudang koperasi untuk menyerap hasil pertanian di desa.
"Katakan apotek, pangsa pasar farma itu sekitar 5 persen dari jumlah penduduk. Potensinya segitu, tinggal dihitung mau belanja berapa," jelasnya.
Baca Juga: Viral di Threads, SMAN 2 Bantul Bantah Tudingan Gangguan Mental yang Dialami Alumni
Dia melihat, pelaksanaan KDMP cukup memiliki banyak tantangan di tengah kompleksitas persaingan usaha. Belum lagi KDMP juga dituntut untuk menutup pengembalian pinjaman yang bersumber dari Dana Desa (DD).
Oleh karena itu butuh sosok manajer dan pemimpin koperasi yang mampu mengambil peluang usaha. "Butuh pengalaman, minimal keahlian teknis. Contoh kecil dari sisi praktik akutansinya," ujarnya. (fid/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita