MUNGKID - Sejumlah pedagang daging di Kota Magelang berencana mogok berjualan imbas ketersediaan bahan baku dan harga daging sapi yang meroket. Rencana tersebut dinilai sebagai sinyal adanya persoalan dalam distribusi dan harga.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Magelang Eddy Sutrisno menuturkan, aksi mogok itu mencerminkan adanya sesuatu yang tidak baik yang dirasakan pedagang. "Mulai dari ketidakadilan hingga tersendatnya pasokan," bebernya, Rabu (17/6/2026).
Menurut Eddy, gejolak harga daging sapi saat ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi faktor ekonomi yang lebih luas. Penguatan nilai tukar dolar, kata dia, berdampak pada kenaikan harga pakan ternak, pupuk, serta berbagai komoditas impor.
Baca Juga: Badan Geologi: Hoaks, Gunung Lawu di Jawa Tengah Akan Erupsi Besar, Aktivitasnya Masih Normal
Kondisi tersebut, lanjut dia, berimbas pada naiknya biaya produksi di tingkat peternak dan pemasok, yang akhirnya mendorong kenaikan harga daging di pasaran. Apindo pun mendorong pemerintah daerah untuk segera melakukan intervensi, termasuk melalui operasi pasar guna menstabilkan harga.
Selain itu, Eddy menilai, pemerintah perlu lebih aktif memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait situasi yang terjadi. Menurutnya, transparansi penting agar masyarakat memahami bahwa tekanan ekonomi tidak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga berdampak luas pada kondisi daerah.
"Kesadaran masyarakat itu penting. Jangan sampai pemerintah terkesan diam, karena ini kondisi yang harus dihadapi bersama," ujarnya.
Baca Juga: Viral di Threads, SMAN 2 Bantul Bantah Tudingan Gangguan Mental yang Dialami Alumni
Eddy juga menyoroti tekanan yang kini dihadapi pedagang. Mulai dari harga beli yang tinggi, biaya operasional yang meningkat, hingga penurunan daya beli masyarakat. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi memicu inflasi daerah yang lebih tinggi.
"Kalau inflasi naik, daya beli turun. Ini yang harus dijaga dengan memastikan suplai bahan pokok tetap lancar," kata Eddy.
Pedagang daging sapi di Pasar Gotong Royong, Hariyanto memastikan, akan ikut dalam aksi mogok selama tiga hari ke depan. Dia menyebut, kelangkaan sapi membuat harga di tingkat rumah potong hewan (RPH) melonjak hingga sekitar Rp 115 ribu per kilogram (kg) untuk karkas.
Baca Juga: 30 Lembar Bukti Ungkap Dana Rp 21,4 Miliar Tak Bisa Dipertanggungjawabkan Nany Widjaja
Sementara di tingkat pedagang, harga beli dari pemasok sudah berada di kisaran Rp 145 ribu hingga Rp 150 ribu per kg. Dengan kondisi tersebut, menurutnya, harga jual ke konsumen menjadi sulit disesuaikan dengan daya beli masyarakat.
Akibatnya, pedagang justru mengalami kerugian. "Dengan harga sekarang itu tidak cocok, jualan jadi rugi terus," terang Hariyanto.
Dia menambahkan, kenaikan harga sudah mulai terasa sebelum Iduladha dan terus berlanjut hingga sekarang. Selain faktor pasokan, mahalnya biaya pembibitan sapi juga diduga menjadi penyebab terbatasnya ketersediaan ternak di pasaran.
Kondisi itu, kata dia, praktis juga berdampak pada penurunan jumlah pembeli di pasar. Harga yang semakin tinggi membuat konsumen mengurangi pembelian, sehingga perputaran barang di tingkat pedagang ikut melambat. (aya)