Ketua Panitia Jamasan Tosan Aji 2026, Anto Atmadji menuturkan, kegiatan ini tidak hanya menitikberatkan pada ritual, tetapi juga edukasi dan konservasi benda warisan budaya. "Fokus kami bukan hanya menjamas, tetapi menyelamatkan pusaka yang berisiko rusak karena salah perawatan," katanya di Rumah Dinas Bupati Magelang, Rabu (17/6/2026).
Menurut dia, masih banyak pemilik pusaka yang belum memahami metode perawatan yang tepat. Kesalahan umum yang terjadi antara lain penggunaan bahan yang tidak sesuai hingga teknik penyimpanan yang justru mempercepat kerusakan.
Dalam kegiatan ini, masyarakat tidak hanya menyerahkan pusaka untuk dirawat. Tetapi juga mendapatkan penjelasan mengenai prosedur pembersihan, perawatan berkala, hingga cara penyimpanan yang aman.
Sebab, lanjut dia, perawatan pusaka tidak bisa sembarangan. Ada metode yang benar dan ada yang justru merusak. "Itu yang kami luruskan melalui kegiatan ini," lontarnya.
Selain aspek teknis, edukasi juga mencakup pemahaman nilai historis dan filosofi yang melekat pada setiap pusaka. Hal ini dinilai penting agar masyarakat tidak sekadar melihat Tosan Aji sebagai benda warisan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya.
Dalam pelaksanaannya, tidak semua pusaka langsung dijamas. Panitia terlebih dahulu melakukan penilaian terhadap kondisi masing-masing benda. Hasil kurasi menentukan metode penanganan, apakah perlu dijamas secara menyeluruh, cukup diberi minyak, atau ditunda karena memerlukan penanganan khusus.
Anto menyebut, setiap pusaka memiliki kondisi berbeda. "Ada yang bisa langsung diproses, ada yang harus dipending karena tingkat korosinya tinggi," kata Anto.
Seorang peserta, Rohmad Subadi mengaku, mendapatkan pemahaman baru setelah mengikuti kegiatan tersebut. Dia membawa dua pusaka warisan keluarga untuk diperiksa dan dirawat. Namun, setelah dikurasi, hasilnya berbeda.
"Yang satu bisa langsung dijamas, yang satu harus ditunda karena karatnya tinggi. Padahal saya rutin memberi minyak, tapi ternyata caranya kurang tepat," sebutnya.
Dia menilai, kegiatan ini penting karena memberikan pengetahuan praktis yang selama ini sulit diakses masyarakat umum. "Saya jadi tahu cara merawat yang benar dan bagaimana memperlakukan pusaka dengan lebih baik," imbuhnya. (aya)