JAKARTA – Beredarnya narasi di media sosial yang mengklaim Gunung Lawu akan mengalami erupsi besar akhirnya dibantah tegas oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, memastikan informasi yang viral di platform Threads tersebut adalah hoaks belaka.
"Badan Geologi dengan tegas menyatakan bahwa informasi tersebut adalah tidak benar (hoax)," tegas Lana Saria dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/6/2026).
Narasi yang meresahkan itu menyebutkan adanya kenaikan lava, pengisian kantong magma (chamber), hingga tekanan lempeng dari jalur Bojonegoro yang disebut-sebut memicu erupsi Gunung Lawu. Padahal, berdasarkan data ilmiah terbaru, aktivitas Gunung Lawu saat ini masih dalam kategori normal dan aman.
Baca Juga: Gaji Ke-13 PPPK Paruh Waktu di Kota Jogja Dicicil, PNS Diminta Tidak Pamer di Sosial Media
Aktivitas Gunung Lawu Masih Normal
Gunungapi Lawu yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Karanganyar) dan Jawa Timur (Kabupaten Magetan) ini memiliki elevasi 3.265 meter di atas permukaan laut. Secara geografis, gunung ini berada pada koordinat 7.6284 LS dan 111.1942 BT.
Badan Geologi mengungkapkan bahwa Gunung Lawu termasuk gunungapi tipe B, yaitu gunungapi yang sejak tahun 1600 belum pernah mengalami erupsi magmatik. Aktivitas vulkanik yang teramati saat ini hanya berupa aktivitas gas solfatara di Kawah Candradimuka.
Hasil penyelidikan geokimia yang dilakukan tim dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi pada tahun 2021 dan 2023 menunjukkan bahwa komposisi gas di Kawah Candradimuka terdiri dari uap air (H2O), CO2, H2S, SO2, NH3, N2, dan H2. Gas-gas vulkanik ini merupakan temuan normal pada gunungapi aktif seperti Gunung Lawu.
Baca Juga: Pemkot Magelang Kejar Solusi Jaga Stabilitas Daging Sapi Tanggapi soal Rencana Mogok Pedagang
Yang lebih meyakinkan, hasil pengukuran suhu di Kawah Candradimuka menunjukkan nilai 90,8–92 °C. Angka ini mengindikasikan tidak terjadi kenaikan lava ke permukaan.
Meskipun analisis kimia gas pada sampel air panas di sekitar Gunung Lawu menunjukkan magmatisme masih aktif, tidak terjadi perubahan komposisi kimia air dan gas vulkanik yang signifikan. Hal ini menegaskan tidak adanya kenaikan fluida (campuran gas, cairan, dan padatan batuan) ke permukaan Gunung Lawu seperti yang diklaim dalam narasi hoaks tersebut.
Imbauan untuk Masyarakat
Menanggapi beredarnya informasi palsu tersebut, Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk:
1. Tetap tenang dan waspada serta tidak terpancing atau turut menyebarkan informasi yang tidak jelas sumber dan kebenarannya.
2. Pastikan untuk selalu merujuk pada informasi resmi terkait kebencanaan geologi dan gunung api melalui aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.esdm.go.id), situs web resmi Badan Geologi (https://geologi.esdm.go.id), atau akun media sosial resmi Badan Geologi (Instagram: @badan.geologi, X: @badangeologi_, dan Facebook: Badan Geologi).
3. Jika menemukan informasi yang meragukan terkait aktivitas gunungapi, masyarakat dapat melakukan konfirmasi langsung melalui kanal-kanal komunikasi resmi Badan Geologi.
Baca Juga: Kurs Dolar Fluktuatif dan Bergejolak, Pemprov DIY Mulai Petakan Proyek yang Berisiko Terdampak
Aktivitas Pendakian Tetap Aman
Meskipun isu hoaks sempat meresahkan, aktivitas pendakian di Gunung Lawu menjelang momen 1 Suro justru berlangsung aman dan terkendali. BPBD Magetan mencatat lebih dari 500 pendaki melakukan aktivitas di Jalur Cemorosewu. Sementara itu, di sisi Karanganyar, tercatat 371 orang mendaki via Cemoro Kandang dan 137 orang via Candi Cetho.
Komandan Markas SAR Karanganyar, Arif Sukro Yunianto, memastikan kondisi aktivitas pendakian Gunung Lawu aman terkendali. "Sementara insiden tidak ada, cuaca bagus tidak ada yang dikhawatirkan," ujarnya.
Masyarakat diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak bertanggung jawab dan selalu mengecek kebenaran informasi melalui sumber-sumber resmi. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin