MAGELANG - Puluhan pedagang daging sapi di kota dan Kabupaten Magelang berencana mogok berjualan selama tiga hari, 18-20 Juni 2026. Hal itu menyikapi adanya kelangkaan pasokan daging hingga kenaikan harga yang semakin tidak terkendali.
Perwakilan pedagang daging di Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Magelang Fitria menyebut, rencana aksi itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa bulan terakhir, harga sapi hidup terus merangkak naik, bahkan sejak sebelum Ramadan.
Dia mengatakan, kondisi tersebut praktis berdampak langsung pada harga karkas atau daging sapi setelah dipotong tanpa kepala, kaki, dan jeroan yang kini menembus Rp 112 ribu hingga Rp 115 ribu per kilogram (kg).
Baca Juga: Lawan Dampak Gadget pada Anak, Ganara Art Ajak Warga Jogja Jajal Terapi Seni di GIK UGM
Padahal, sebelum Lebaran, harga masih berkisar Rp 98 ribu hingga Rp 102 ribu. Para pedagang mengaku terjepit karena daya beli masyarakat terbatas, sementara persaingan harga di pasar semakin ketat. "Masalah utama kami itu di pengadaan sapi. Harga naik terus, tapi harga jual tidak bisa ikut naik banyak," keluhnya saat ditemui, Selasa (16/6).
Saat ini, lanjut Fitria, harga daging di tingkat konsumen bertahan di kisaran Rp 140 ribu hingga Rp 145 ribu per kg. Selisih harga yang semakin tipis membuat banyak pedagang kesulitan menutup biaya operasional.
Di sisi lain, pedagang juga mengeluhkan persaingan yang dinilai tidak sehat, terutama dari daging yang dijual jauh lebih murah dari harga pasar. Mereka menduga sebagian berasal dari pemotongan di luar RPH resmi.
Baca Juga: Pergerakan Penumpang Melonjak 114 Persen, Daop 6 Jogja Layani 72 Ribu Orang di Momen Libur 1 Muharam
"Kalau ada yang jual terlalu murah, itu merusak harga pasar. Kami yang beli mahal jadi tidak bisa bersaing," katanya.
Fenomena kenaikan harga ini, kata Fitria, sebenarnya bukan hal baru dan kerap terjadi setiap tahun. Namun, dia menilai, lonjakan tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Satu faktor yang diduga menjadi pemicu adalah terbatasnya pasokan, termasuk belum optimalnya distribusi sapi impor. Sementara itu, produksi lokal belum mampu menutup kebutuhan pasar.
Pedagang daging sapi di Pasar Rejowinangun, Detta Moerdhaniyanti menambahkan, kondisi tersebut diperparah oleh menurunnya jumlah pembeli. Di tengah harga yang tinggi, konsumen mulai mengurangi pembelian, bahkan hanya membeli setengah atau seperempat dari biasanya.
Dia mengutarakan, aksi mogok selama tiga hari dirancang sebagai shock therapy agar pasar, termasuk konsumen menyadari bahwa harga daging sapi memang sedang tidak normal. "Permintaan jelas turun. Apalagi sekarang masuk bulan Suro, biasanya memang sepi. Tapi tahun ini terasa lebih berat," paparnya.
Selain itu, pasokan daging di Magelang tidak hanya bergantung pada wilayah lokal. Sebagian distribusi juga berasal dari daerah lain seperti Boyolali. Namun, perbedaan harga dari luar daerah justru membuat harga di pasar tidak seragam. "Kompetitor dari Boyolali bisa jual lebih murah. Akhirnya kami tidak bisa menaikkan harga seenaknya," imbuhnya.
Dia menuturkan, di tengah harga yang semakin tinggi, sebagian pelaku usaha memilih menjual sapi hidup dibandingkan memotongnya menjadi daging. Selain harga lebih tinggi, risiko kerugian juga dinilai lebih kecil.
Senada, pedagang daging sapi di Pasar Rejowinangun, Maryati mengaku, kondisi saat ini membuat banyak pedagang tiarap. Aktivitas pemotongan menurun, bahkan sebagian berhenti sementara. "Harga sapi hidup tinggi, pembeli daging berkurang. Kalau dijual hidup malah lebih aman," lontarnya.
Dalam kondisi normal, lanjut dia, satu pedagang bisa memotong satu hingga dua ekor sapi per hari, bahkan total kebutuhan pasar bisa mencapai sekitar 10 ekor per hari. Namun kini, angka tersebut cenderung menurun, meski tidak drastis.
Baca Juga: Pebalap Binaan Astra Honda Cetak Sejarah Terkencang di Estoril
Maryati menyebut, jaringan pelanggannya yang sebagian besar pedagang bakso juga mulai menyesuaikan pembelian. Dalam kondisi normal, satu pelanggan bisa mengambil hingga 40 kg per hari, bahkan 70 kg saat akhir pekan. Kini, jumlah tersebut mulai berkurang.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang Agus Dwi Windarto mengimbau kepada warga untuk melakukan substansi sementara atau beralih ke sumber protein yang lain. "Yang stoknya melimpah dan harganya relatif stabil misal daging ayam, daging kambing domba, ikan segar, dan telur," sebutnya.
Rencananya, lanjut Agus, disperpa akan melakukan pemantauan dan pengawasan, terutama di Pasar Rejowinangun untuk antisipasi masuknya daging sapi yang tidak Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH). Khususnya yang ingin memanfaatkan situasi kelangkaan daging sapi. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo