Pengasuh API Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo, KH Muhammad Yusuf Chudlori menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi dalam bursa pemilihan calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Bahkan, dia mulai aktif melakukan konsolidasi ke berbagai daerah.
Dalam hampir enam bulan terakhir, Gus Yusuf, sapaan akrabnya intens berkeliling ke sedikitnya 10 provinsi, menyambangi pengurus wilayah (PW) dan pengurus cabang (PC) Nahdlatul Ulama. Kunjungan itu menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi sekaligus menyerap aspirasi sebagai bekal menyusun arah program ke depan.
Dia menyebut, tengah berusaha menjalankan amanah dari para masyayih untuk ikut menata kembali PBNU. "Maka saya keliling, bersilaturahim, mendengar langsung apa yang menjadi kebutuhan teman-teman di daerah," ujar dia di kediamannya, Senin sore (15/6).
Dia mengatakan, hingga kini telah bertemu lebih dari 200 pengurus cabang dan sekitar belasan PW, baik di Jawa maupun luar Jawa, seperti Bengkulu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, dan Jambi. Dari rangkaian pertemuan itu, dia tidak hanya menawarkan gagasan, tetapi juga menampung berbagai persoalan yang dihadapi organisasi di tingkat daerah.
Langkah konsolidasi ini, menurutnya, menjadi penting di tengah kebutuhan untuk memulihkan soliditas internal organisasi pascadinamika yang sempat terjadi. Dia menilai, konflik internal sebelumnya telah berdampak luas, baik terhadap jalannya program organisasi maupun terhadap kepercayaan publik.
Dampaknya, lanjut Gus Yusuf, bukan hanya di struktur, tapi juga di kultur. "Program di daerah sempat tersendat, bahkan ada yang terkendala secara administratif," katanya.
Baca Juga: Ikuti Arahan HB X, Nasabah BUKP Galur dan BUKP Wates Bakal Layangkan Gugatan Perdata
Dari aspirasi yang dihimpun, Gus Yusuf mulai merumuskan sejumlah program prioritas yang akan menjadi fokus jika mendapatkan mandat dalam kepemimpinan PBNU. Setidaknya ada tiga sektor utama yang menjadi perhatian, yakni pendidikan, kesehatan, dan ekonomi keumatan.
Di bidang pendidikan, dia menekankan pentingnya penguatan pesantren dan lembaga pendidikan di bawah naungan NU. Menurutnya, di tengah perubahan zaman, pesantren tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan sistemik dari organisasi.
Sementara di sektor kesehatan, dia menyebut, ada harapan besar dari daerah agar PBNU dapat berperan dalam penyediaan fasilitas layanan kesehatan, mulai dari klinik hingga rumah sakit. Kebutuhan ini dinilai mendesak, mengingat besarnya jumlah warga NU yang membutuhkan akses layanan kesehatan yang terjangkau.
Baca Juga: Diskusi di UGM Berujung Kericuhan, Wamen Sudaryono Bantah Tudingan Kabur
Adapun di bidang ekonomi, dia melihat tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat menjadi tantangan bersama. Karena itu, PBNU diharapkan mampu hadir melalui program pemberdayaan ekonomi, seperti penguatan UMKM dan pengembangan inkubator bisnis berbasis komunitas.
Selain tiga sektor tersebut, Gus Yusuf juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali tradisi intelektual di tubuh NU. Dia menilai, organisasi perlu kembali aktif dalam merespons isu-isu strategis, seperti demokrasi dan lingkungan, sebagai bagian dari peran civil society. "Tidak hanya bergerak di internal, tapi juga memberi warna dalam kehidupan sosial," paparnya.
Meski intens melakukan konsolidasi, dia mengaku, belum ingin mengklaim dukungan dari daerah. Bagi Gus Yusuf, yang lebih penting adalah membangun kesamaan visi dan arah gerakan sebelum berbicara soal dukungan formal. "Kalau gagasan sudah sama, visi sudah sama, pergerakan itu akan mengikuti," imbuhnya.
Dia juga menegaskan, langkah yang ditempuh saat ini merupakan bagian dari amanah para kiai setelah dirinya memutuskan untuk fokus di pesantren dan organisasi. "Inilah alasan utama saya untuk mengambil peran lebih luas di NU," lontarnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo