MAGELANG - Kondisi bangunan pendidikan anak usia dini (PAUD) Setyo Rini di Kampung Paten Gunung jauh dari ideal dan nyaris roboh. Bangunan berukuran sekitar 3x3 meter itu tampak rapuh, dengan atap yang mulai lapuk dan struktur kayu yang menua.
Kondisi itu praktis tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga membahayakan keselamatan anak-anak.
Meski kondisinya memprihatinkan, PAUD Setyo Rini tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar. Saat ini terdapat 13 anak yang belajar di sana, didampingi tiga guru. Proses pembelajaran berlangsung sederhana, dengan fasilitas yang terbatas dan ruang yang sempit.
Baca Juga: Awalnya Sempat Diserbu Warga, KKMP Wates Magelang Kini Berangsur Sepi karena Stok Belum Lengkap
Kepala PAUD Setyo Rini, Rochmawati mengatakan, kondisi bangunan memang sudah lama memprihatinkan. Bangunan yang digunakan saat ini merupakan konstruksi semipermanen yang berdiri di atas lahan sewa milik warga.
"Bangunan ini dari kayu bekas bongkaran rumah. Sudah lama dipakai, jadi memang kondisinya semakin menurun," bebernya, Rabu (10/6).
Dia menjelaskan, PAUD tersebut berdiri sejak 2011, namun cikal bakalnya sudah ada sejak 2008. Saat itu, kegiatan belajar dilakukan secara swadaya dengan memanfaatkan rumah warga. Para orang tua murid bahkan hanya mampu iuran sekitar Rp 1.000 untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti alat tulis.
Baca Juga: Spesialis Bobol Tower BTS Ditangkap, Kabel Curian Dijual Online Rp 190 Ribu Tiap Kilogram
Rochmawati menyebut, keberadaan lembaga ini menjadi penting karena menjadi satu-satunya akses pendidikan anak usia dini di lingkungan tersebut. Dia berharap, perbaikan sekolah dapat memberikan kenyamanan kepada anak-anak.
Situasi tersebut sempat luput dari perhatian hingga akhirnya terlihat langsung oleh Wali Kota Magelang Damar Prasetyono saat melintas di kawasan itu beberapa waktu lalu.
Dari situlah upaya perbaikan mulai digerakkan. “Bangunannya memang mengkhawatirkan, terutama di bagian atap. Kalau dibiarkan, berisiko bagi anak-anak," ujar Damar.
Pemkot Magelang lantas menyalurkan bantuan berupa material bangunan senilai sekitar Rp 20 juta untuk memperbaiki fasilitas tersebut. Warga sekitar juga dilibatkan untuk bergotong royong membangun ulang sekolah itu. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo