MAGELANG - Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Wates yang sempat diserbu warga saat awal dibuka, kini mulai sepi pembeli.
Kondisi itu terlihat dari menurunnya tingkat kunjungan serta sejumlah etalase yang tampak kosong.
Beberapa kebutuhan pokok masyarakat seperti gas elpiji hingga pupuk, belum tersedia di KKMP ini karena masih dalam penjajakan.
Baca Juga: PT KAI Daop 6 Gunakan Peta Perencanaan Richtingskaart, Warga Blondo Sebut Tanah Negara
Padahal, lokasinya terbilang strategis karena berada di kawasan rusunawa, rumah warga, dan fasilitas umum.
Ketua KKMP Wates Edi Susanto mengakui, antusiasme masyarakat pada hari pertama dan kedua setelah peluncuran sangat tinggi.
Namun kondisi itu tidak berlangsung lama seiring belum lengkapnya barang yang tersedia.
Pada hari pertama hingga hari kedua, kata dia, transaksi bisa mencapai sekitar Rp 6 juta.
Baca Juga: Igor Tolic Antusias Pimpin Persib Bandung di ASEAN Club Championship
"Tapi setelah itu mulai turun, karena banyak barang yang dibutuhkan belum kami sediakan," ujarnya di lokasi, Kamis (11/6).
KKMP Wates sendiri resmi diluncurkan pada pertengahan Mei lalu secara serentak dan mulai beroperasi.
Namun Edi mengaku, masih dalam proses penjajakan untuk menyesuaikan antara kebutuhan masyarakat dan ketersediaan barang.
Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi adalah mempertemukan antara keinginan masyarakat dengan barang yang tersedia.
"Karena masih baru, kami masih menjajaki barang apa yang benar-benar dibutuhkan," katanya.
Sejumlah kebutuhan pokok seperti gas elpiji hingga beras menjadi komoditas yang paling banyak dicari masyarakat. Namun hingga saat ini, ketersediaannya belum sepenuhnya terpenuhi.
"Ketika tidak lengkap (barangnya), mereka cenderung tidak kembali," tambahnya.
Baca Juga: PPPK Paruh Waktu di Kulon Progo Tak Terima Gaji ke-13 Juni
Untuk mengatasi hal itu, dia pun mencatat setiap permintaan konsumen yang datang. Kemudian berkoordinasi dengan penyedia barang yakni PT Agrinas guna menyesuaikan pengadaan barang ke depan.
Selain persoalan stok, KKMP Wates juga sempat mengalami jeda operasional sementara untuk proses sinkronisasi sistem distribusi barang.
Setelah kembali aktif pada awal Juni, tingkat kunjungan masih belum kembali seperti saat awal pembukaan.
Meski demikian, Edi menegaskan, rendahnya kunjungan bukan disebabkan oleh persaingan dengan toko kelontong maupun ritel modern.
Dia menilai, masyarakat memiliki minat tinggi terhadap keberadaan koperasi itu, terutama untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau.
Dia menambahkan, sejak awal KKMP Wates tidak ditujukan untuk bersaing dengan warung kecil. Melainkan menjadi pusat kulakan bagi para pelaku usaha mikro di lingkungan sekitar.
"Jadi bukan menjadi pesaing, tapi menjadi mitra," bebernya.
Sementara itu, Dandim 0705/Magelang Letkol Inf Afrizal Rakhman menyebut, dari total target 279 titik, sebanyak 145 telah rampung dan 114 lainnya masih dalam proses pembangunan
. "Sebanyak 51 titik KDKMP di kota dan kabupaten sudah beroperasi serta dapat melaksanakan transaksi," paparnya.
Baca Juga: Solihul Hadi Kembali Nahkodai DPC PKB Kota Jogja, Persoalan Kaderisasi Jadi Evaluasi
Namun demikian, dia mengakui, sejumlah koperasi masih menghadapi tantangan teknis. Seperti sistem pembayaran yang masih dominan tunai dan belum sepenuhnya menerapkan sistem digital.
Dia menyebut, beberapa lokasi telah menggunakan sistem transaksi otomatis, namun belum menerapkan pembayaran elektronik maupun barcode.
Selain itu, barang bersubsidi dan kebutuhan pokok seperti gas elpiji, telur, pupuk, dan lainnya belum didukung sehingga barang di gerai masih banyak yang kosong.
Terpisah, Pj Sekretaris Daerah Kota Magelang Larsita mengatakan, pemkot bersama jajaran TNI dan instansi terkait terus melakukan pemantauan operasional KKMP di lapangan.
"Dari hasil peninjauan, memang masih ada beberapa barang yang belum lengkap. Namun pihak penyedia menyampaikan akan segera memenuhi kekurangan tersebut," terangnya. (laz)
Editor : Herpri Kartun