Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

SPMB Lingkungan Madrasah di Kebumen Berbeda dengan Sekolah Umum: Tak Kenal Zonasi, Bisa Tampung Siswa dari Luar

Muhammad Hafied • Senin, 8 Juni 2026 | 21:46 WIB
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kebumen Anif Solikhin. (M Hafied/Radar Jogja)
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kebumen Anif Solikhin. (M Hafied/Radar Jogja)

KEBUMEN - Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di lingkungan madrasah memiliki mekanisme yang berbeda dengan SPMB yang diterapkan sekolah umum. Perbedaan mendasarnya terdapat pada jalur domisili. Tanpa sistem zonasi, memungkinkan calon siswa dari berbagai daerah menyenyam pendidikan sesuai madrasah tujuan.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kebumen Anif Solikhin menerangkan, jika sekolah umum mengenal empat jalur penerimaan siswa, yakni jalur domisili, afirmasi, prestasi dan mutasi. Berbeda dengan madrasah, yakni hanya menerma tiga jalur, masing-masing reguler, prestasi dan afirmasi.

"Kami tidak mengenal zonasi, bisa tampung siswa dari mana saja," ungkapnya kepada Radar Jogja Senin (8/6/2026).

Baca Juga: Musim Kemarau, Peternak Gunungkidul Diminta Waspadai Serangan Hewan Liar

Tanpa sistem zonasi, calon siswa dari berbagai daerah dimungkinkan dapat mengenyam pendidikan sesuai madrasah tujuan. Kebijakan ini memberikan kesempatan bagi seluruh calon murid mengakses pendidikan sesuai minat pilihannya.

"Tidak ada kebijakan soal zonasi. Di MI, MTs, MA juga begitu. Bahkan banyak siswa dari luar daerah," ujarnya.

Anif menyatakan, konsep penerimaan siswa baru di madrasah tidak lain untuk memenuhi hak dasar masyarakat dalam mengakses layanan pendidikan secara adil. Dalam pelaksanaannya juga memperhatikan aspek objektivitas, akuntabel dan tanpa diskriminasi.

Baca Juga: Pelatih PSS Sleman Pieter Huistra Jajaki Calon Pemain di Belanda

Adapun seleksi penerimaan siswa baru dilakukan berdasar ketentuan berlaku dengan menperhatikan ketersediaan daya tampung serta persyaratan administrasi setiap madrasah. 

"Kami punya 16 madrasah negeri, lainnya swasta. Petunjuk teknis SPMB beda dengan SD dan SMP negeri," ucapnya.

Anif menegaskan, meski perlakuan dengan sekolah umum berbeda, dia memastikan siswa madrasah mampu bersaing. Dicontohkan, berdasar data analisis lulusan nilai rata-rata Tes Kompetensi Akhir (TKA) di madrasah jauh lebih tinggi ketimbang rata-rata provinsi bahkan nasional.

Baca Juga: Momentum HUT Ke-79 Pemkot Jogja, Dewan Ingatkan Implementasi Aman dan Indah Perlu Dioptimalkan

Dia menyebut, capaian rata-rata TKA madrasah bahkan melampaui nilai TKA sekolah umum di Kebumen. "Dari segi prestasi tidak kalah. MTsN 1 Kebumen itu terbaik se kabupaten, nilai rata-rata Bahasa Indonesia 84, kalau SMP itu 78,"  jelasnya.

Panitia SPMB MIN 1 Kebumen Alfan Salim Junaedi mengatakan, dari segi layanan pendidikan, madrasah setiap tahun semakin dilirik masyarakat. Hal ini tidak lepas dari kualitas atau hasil pembelajaran yang dianggap memuaskan.

Menurutnya, sejauh ini siswa madrasah mampu berkompetisi, baik di tingkat daerah maupun nasional. Terbukti dengan banyaknya penghargaan yang diraih siswa madrasah. "Kami buka empat rombel (rombongan belajar). Itu selalu penuh," katanya. (fid/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#sekolah umum #kebumen #zonasi #spmb #madrasah