MUNGKID - Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan intensitas tinggi seiring suplai magma dari dalam perut bumi yang terus berlangsung. Bahkan, ratusan kejadian guguran lava pijar yang terjadi setiap hari, menandakan erupsi masih aktif dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso menjelaskan, berdasarkan data pemantauan terkini, tekanan magma masih terus mendorong aktivitas vulkanik Merapi.
"Dari data seismik dan deformasi, suplai magma masih berlangsung dan cukup tinggi. Ini menandakan aktivitas erupsi Merapi masih intensif," ujarnya saat ditemui di Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, Sabtu (6/6).
Secara visual, kata dia, aktivitas tersebut dapat diamati saat cuaca cerah. Guguran lava terjadi hingga ratusan kali dalam sehari, sementara pada malam hari tampak pijaran lava dari puncak gunung.
"Kalau malam terlihat pijar, dan ini terjadi setiap hari. Artinya intensitas erupsi masih tinggi," tambahnya.
Agus menegaskan, dengan kondisi suplai magma yang masih kuat, erupsi Merapi diperkirakan akan terus berlangsung. Warga diminta untuk tetap waspada meskipun telah terbiasa dengan aktivitas gunung tersebut sejak erupsi berlangsung pada 2021.
Saat ini, status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Dalam kondisi ini, kesiapsiagaan menjadi kunci utama, baik bagi masyarakat maupun pemerintah daerah.
Karena itu, BPPTKG mengimbau warga di lereng Merapi untuk tetap mematuhi seluruh rekomendasi, termasuk menyiapkan tas siaga dan memastikan akses evakuasi dalam kondisi siap digunakan. Pemerintah daerah juga diminta memastikan sarana evakuasi dapat berfungsi optimal jika sewaktu-waktu diperlukan.
"Warga sebenarnya sudah beradaptasi karena aktivitas ini berlangsung cukup lama dan cenderung monoton. Tapi kesiapsiagaan tetap harus dijaga," tegas Agus.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati mengatakan, aktivitas Merapi merupakan bagian dari dinamika geologi Indonesia yang berada di kawasan cincin api (ring of fire). Indonesia saat ini memiliki 69 gunung api aktif yang terus dipantau selama 24 jam melalui 74 pos pengamatan yang tersebar di berbagai wilayah.
"Ini konsekuensi karena kita berada di pertemuan tiga lempeng. Tanahnya subur, tapi juga rawan bencana," bebernya.
Dari puluhan gunung aktif tersebut, beberapa di antaranya berada pada status siaga seperti Merapi, Semeru, dan Marapi. Beruntung, tidak ada gunung yang saat ini berstatus Awas.
Menurut Rita, keberadaan pos pengamatan menjadi instrumen penting dalam memastikan keselamatan masyarakat. Karena itu, warga diminta untuk mematuhi batas radius bahaya yang telah ditetapkan.
"Kalau sudah ditetapkan radius tertentu tidak boleh didekati, itu harus dipatuhi. Ini bukan larangan tanpa alasan, tapi demi keselamatan," tegasnya.
Dia juga mengingatkan para pendaki untuk tidak memaksakan diri memasuki kawasan yang telah ditutup. Selain berisiko bagi diri sendiri, tindakan tersebut juga dapat membahayakan tim penyelamat. (aya)
Editor : Heru Pratomo