MUNGKID - Desa Nglumut, Srumbung, Kabupaten Magelang, mulai memetik hasil dari inovasi pertanian modern yang dikembangkan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Nglumut Sejahtera. Budi daya melon hidroponik yang dikelola secara terstandar kini tidak hanya menghasilkan produk premium, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru berbasis wisata desa.
Panen perdana yang dilakukan belum lama ini menjadi penanda awal pengembangan unit usaha tersebut. Di dalam satu rumah kaca berukuran 9,5 meter x 24 meter, sebanyak 500 tanaman melon jenis Sweet Lavender dan Sunny dibudidayakan menggunakan sistem hidroponik rakit apung.
Ketua BUMDes Nglumut Sejahtera, Eko Sigit Nugroho menjelaskan, metode budi daya yang diterapkan menitikberatkan pada kualitas buah, bukan kuantitas produksi. Setiap tanaman hanya dibiarkan menghasilkan satu buah untuk menjaga ukuran dan rasa.
"Dari satu batang hanya satu buah. Jadi kita kejar kualitasnya. Rata-rata bobotnya 1,8 hingga lebih dari dua kilogram (kg)," ujarnya, Jumat (5/6).
Melalui metode tersebut, kata dia, buah yang dihasilkan memiliki karakteristik rasa manis dan tekstur renyah yang menjadi daya tarik utama bagi konsumen. Produk melon ini dipasarkan dengan harga sekitar Rp30.000 per kilogram, sekaligus menjadi komoditas unggulan dalam pengembangan wisata petik buah.
Kepala Desa Nglumut, Imron Suheri menyebut, pengelolaan usaha ini sepenuhnya dilakukan oleh BUMDes. Dengan sebagian keuntungan yang dihasilkan akan masuk sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes).
"BUMDes mengelola dari produksi sampai pemasaran. Hasilnya nanti sebagian menjadi pemasukan desa," katanya.
Lebih dari sekadar pertanian, lanjut dia, keberadaan greenhouse melon ini diarahkan menjadi magnet wisata baru. Konsep wisata petik buah memungkinkan pengunjung merasakan langsung pengalaman memanen melon dari pohonnya.
Menurut Imron, minat masyarakat cukup tinggi bahkan sebelum dibuka secara luas. Sejumlah pengunjung telah melakukan pemesanan untuk datang dan merasakan pengalaman tersebut. "Banyak yang sudah booking. Mereka ingin merasakan sensasi petik langsung, itu yang dicari," bebernya.
Baca Juga: Aksi Nyerah Jadi WNI, 526 Suara Klakson Bergema di Bundaran UGM Jogja
Dalam satu pekan, jumlah kunjungan ke Desa Nglumut diperkirakan bisa mencapai lebih dari 500 orang. Kehadiran melon hidroponik ini melengkapi potensi wisata yang sudah lebih dulu berkembang, seperti kebun salak, sabo dam, area camping ground, kafe, hingga wisata tubing dengan latar Gunung Merapi.
Imron menambahkan, keberhasilan tahap awal ini akan menjadi dasar untuk pengembangan skala usaha ke depan. Pemedes berencana menambah fasilitas serupa setelah mendapatkan gambaran pasti terkait tingkat keuntungan usaha.
"Kalau ini terbukti menguntungkan, akan kita kembangkan lagi," terangnya. (aya/pra)