Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lautan Umat Buddha Iringi Kirab Waisak di Candi Borobudur, Angkat Nilai Kebijaksanaan dan Cinta Kasih

Naila Nihayah • Minggu, 31 Mei 2026 | 19:39 WIB
KHIDMAT: Kirab Waisak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur diikuti puluhan ribu umat Buddha, Minggu (31/5). Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
KHIDMAT: Kirab Waisak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur diikuti puluhan ribu umat Buddha, Minggu (31/5). Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

 

MAGELANG - Puluhan ribu umat Buddha mengikuti kirab dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur dalam rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE/2026, Minggu (31/5).

Kirab ini tidak sekadar berjalan kaki, melainkan sebagai suatu proses meditasi dan sarat akan nilai kebijaksaan serta cinta kasih.

Sejak pagi hari, kawasan Candi Mendut dipenuhi umat berpakaian putih, biksu, serta rombongan dari berbagai majelis Buddhis. Mereka membaca paritta, mantra, dan sutra terlebih dahulu di altar utama.

 Tepat pukul 10.00, kirab mulai bergerak perlahan.

Baca Juga: Mataram Utama Pimpin Grup H Liga 4 Piala Presiden 2026 di Jogja

Kirab dimulai dengan berjalan menyusuri Jalan Mayor Kusen, melewati simpang tugu Soekarno-Hatta menuju Jalan Bala Putera Dewa, dan masuk ke kompleks Candi Borobudur melalui pintu 7. 

Kirab ini dilakukan untuk mengiringi api dharma dan air berkah yang sebelumnya telah disakralkan di Candi Mendut.

Selain itu, terdapat sejumlah mobil hias dan personel marching band. Lalu, disusul pembawa bendera, hasil bumi, para biksu, hingga umat Buddha. Sembari berjalan, mereka kompak membawa bunga sedap malam.

Sejumlah biksu yang menaiki mobil hias pun turut memercikkan air dharma atau proses blessing. Momentum yang hanya berlangsung satu kali dalam setahun ini berubah menjadi tontonan yang menyedot perhatian warga.

Perwakilan Majelis Mahayana Tanah Suci Indonesia, Bhikkhu Dwiwiya Savhira menjelaskan, kirab itu bukan sekadar prosesi seremonial, melainkan simbol perjalanan hidup manusia yang penuh liku. 

Api dharma yang dibawa melambangkan cahaya kebijaksanaan agar mengetahui hal yang baik dan buruk.

Sementara air berkah diambil dari sumber mata air Jumprit sebagai simbol kehidupan. Melambangkan cinta kasih dan kerendahan hati. 

"Dalam hidup, manusia membutuhkan cahaya dan cinta kasih. Tanpa itu, hidup tidak akan damai," paparnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Walubi YM Bhikkhu Kamsai Sumano Mahathera menekankan, kirab Waisak tahun ini mengangkat dua nilai utama, kebijaksanaan (dhamma) dan cinta kasih (metta). 

"Dua hal ini adalah berkah besar untuk kedamaian dunia," ujarnya.

Baca Juga: Libur Kompetisi, Pelatih PSIM Jogja Van Gastel Tetap Berikan PR ke Pemain, Berharap Anak Asuhnya Siap Menghadapi Musim Depan

Dia menuturkan, momentum Waisak menjadi ajakan untuk kembali memperkuat persatuan. "Dunia sedang kehilangan rasa persaudaraan. 

Maka Waisak ini menjadi momen untuk bersatu sebagai sesama manusia," tambahnya.

Bagi umat Buddha, kata dia, Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha, yakni kelahiran, pencerahan sempurna, dan parinibbana atau wafat. Selain itu, Waisak juga menjadi pengingat akan pentingnya empati, cinta kasih, dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Ketua II DPD Walubi Jawa Tengah Tanto Soegito Harsono menyebut, umat Buddha yang mengikuti rangkaian Waisak diperkirakan mencapai 25 ribu orang. 

Mereka mengikuti kirab sebelum prosesi detik-detik Waisak pukul 15.44.44.

Dia mengutarakan, kirab ini tidak sekadar menjadi peristiwa religius, tapi juga menjelma menjadi ruang perjumpaan sosial.

 Warga dari berbagai latar belakang tampak antusias menyaksikan prosesi yang jarang terjadi.

Di tengah arak-arakan, sejumlah simbol utama Waisak turut dibawa seperti api dharma, air suci, kitab suci, hingga relik Buddha. 

Seluruhnya diarak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur untuk kemudian dipersembahkan dalam puncak perayaan.

Baca Juga: Tak Mau Terburu-buru dalam Berburu Pemain, Pelatih PSS Sleman Pieter Huistra Ingin Skuadnya Lebih Matang

"Ini seperti tradisi zaman dahulu, kita membawa persembahan dari Mendut ke Borobudur untuk mengikuti puja hingga detik-detik Waisak," jelas Tanto.

Kirab berakhir di zona 1 Lapangan Kenari, Candi Borobudur. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, puncak Waisak kali ini berlangsung pada sore hari, menyesuaikan dengan perhitungan astronomis. (aya/laz)

Editor : Herpri Kartun
#buddha #candi borbudur #waisak