MUNGKID - Ratusan umat Buddha dari berbagai penjuru dunia berkumpul di kawasan Candi Borobudur.
Melalui rangkaian Nyingma Monlam Chenmo 2026, mereka mengirimkan pesan spiritual dari Indonesia untuk dunia, yakni perdamaian harus dimulai dari diri sendiri, lalu meluas ke seluruh umat manusia.
Untuk kali keempat, kegiatan doa aspirasi agung itu digelar Majelis Umat Nyingma Indonesia (MUNI), Sangha Tantrayana.
Tahun ini acara berlangsung selama tiga hari, 28-30 Mei 2026 di Taman Aksobya, kompleks Candi Borobudur, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Tri Suci Waisak 2570 BE/2026.
Baca Juga: Para Biksu Akhirnya Tiba di Candi Borobudur Magelang, Lakukan Pradaksina dan Doa Bersama
Ketua Panitia Nyingma Monlam Chenmo Indonesia 2026 Lama Rama Santoso Liem mengutarakan, kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang membawa misi besar.
Yakni mendoakan perdamaian dunia sekaligus kesejahteraan bangsa.
“Kami ingin mendoakan agar dunia selalu damai dan sejahtera, termasuk masyarakat Indonesia yang menjadi bagian dari dunia itu sendiri,” ujarnya di sela kegiatan.
Tidak hanya berhenti pada doa global, kata dia, tahun ini panitia secara khusus menambahkan fokus pada kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Doa-doa yang dipanjatkan tidak hanya bersifat universal, tetapi juga kontekstual dengan kondisi nasional.
Dia mengatakan, rangkaian kegiatan Nyingma Monlam Chenmo 2026 tidak hanya berisi doa utama, tetapi juga berbagai ritual yang menggabungkan tradisi Buddha dengan kearifan lokal Jawa.
Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan upacara utama Nyingma Monlam.
Kemudian dilanjutkan pada hari kedua dengan Krodikali Feast Offering.
Pada malam harinya, peserta akan mengikuti Larung Pelita Purnama Siddhi di Sungai Progo, sebuah ritual pelepasan pelita sebagai simbol harapan dan pencerahan.
Sementara pada Sabtu (30/5) pagi, digelar Merti Karuna Bhumi atau ritual yang menggabungkan nilai-nilai spiritual Buddha dengan tradisi lokal sebagai bentuk penghormatan terhadap bumi dan kehidupan.
Rangkaian acara ditutup dengan Borobudur Peace on Prosperity.
Baca Juga: Tunggu PSEL Bisa Beroperasi 2028, Sleman Buat Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah
Kemudian, seluruh peserta bergabung dalam perayaan Waisak Nasional 2026 pada Minggu (31/5/2026).
“Kami memang mengombinasikan adat Jawa dengan ajaran Buddha. Ini bentuk kolaborasi budaya dan spiritual yang menjadi kekuatan Indonesia,” ujar Rama.
Meski demikian, jumlah peserta tahun ini mengalami penurunan dibandingkan rencana awal.
Dari kapasitas yang disiapkan sekitar 500 hingga 700 peserta, hanya sekitar 400 orang yang akhirnya dapat hadir. Baik peserta dari mancanegara maupun berbagai daerah di Indonesia.
Baca Juga: DKPP Bantul Temukan Ratusan Kasus Cacing Hati pada Hewan Kurban, Ini Rinciannya
Rama menegaskan, pesan utama kegiatan ini adalah mengajak umat Buddha untuk lebih peduli, tidak hanya pada dunia secara luas, tetapi dimulai dari lingkup terkecil.
“Kita harus mulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan kita. Setelah itu, baru kita mengirimkan doa yang lebih besar untuk dunia,” ujarnya. (aya/laz)
Editor : Herpri Kartun