Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Para Biksu Thudong Tiba di TITD Hok An Kiong, Perjalanan Akan Dilanjut ke Vihara Mendut dan Bermalam di Vihara Catra Jinadhammo

Naila Nihayah • Rabu, 27 Mei 2026 | 20:30 WIB
SESUAI JADWAL: Rombongan biksu sampai dan akan bermalam di TITD Hok An Kiong Muntilan Rabu (27/5). (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
SESUAI JADWAL: Rombongan biksu sampai dan akan bermalam di TITD Hok An Kiong Muntilan Rabu (27/5). (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)

MUNGKID - Suara tabuhan barongsai menggema di halaman TITD Hok An Kiong, Muntilan Rabu (27/5) petang. Sekitar pukul 17.30, puluhan Biksu peserta Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 melangkah masuk melewati gerbang kelenteng dengan langkah perlahan namun mantap.

Wajah-wajah lelah tampak jelas, tetapi sambutan hangat berupa tarian, bunga, dan tepuk tangan warga seolah menjadi energi baru setelah perjalanan panjang. Di balik penyambutan itu, tersimpan kisah keteguhan para Biksu yang menempuh ratusan kilometer (km) perjalanan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur. "Kami sangat bahagia dan bersyukur atas kehadiran para Biksu yang singgah di sini sebelum melanjutkan perjalanan spiritual menuju Borobudur," sebut ketua panitia penyambutan di TITD Hok An Kiong Upasaka Vinito Vincent Eddy Kuncoro Hartono.


Ketua Nasional IWFP 2026, Tosin menyebut, para Biksu harus menghadapi berbagai tantangan sepanjang perjalanan. Mulai dari terik matahari, hujan, hingga kondisi fisik yang terus terkuras. Meski begitu, mereka tetap berjalan. "Bahkan kaki lecet sampai luka, itu tetap dilanjutkan," kata dia.

Baca Juga: Optimistis Target PAD Pariwisata Tercapai Juni 2026, Disparekrafpora Gunungkidul Rutin Sidak Tiap Pekan

Nahasnya, luka di kaki bukan sekadar lecet biasa. Dalam beberapa kasus, para Biksu harus menjahit sendiri bagian telapak kaki yang terluka agar bisa tetap melanjutkan perjalanan keesokan harinya. "Bisa ada tiga sampai lima jahitan di telapak kaki, tapi besok tetap jalan lagi," sambungnya.

Kondisi tersebut, kata dia, menggambarkan tingkat disiplin dan keteguhan yang tinggi dalam menjalankan misi spiritual. Bagi para Biksu, perjalanan ini bukan sekadar ritual, tetapi bentuk pengorbanan untuk menyampaikan pesan damai kepada dunia.

Saat disinggung soal IWFP, dia menjelaskan, istilah itu dipilih sebagai upaya untuk memperluas jangkauan pesan kepada publik global. Sebelumnya, perjalanan ini dikenal dengan istilah thudong atau tradisi pertapaan dalam ajaran Buddha.

"Kalau Thudong itu lebih pada cara hidup. Tapi ini kita kemas sebagai perjalanan damai, sehingga lebih mudah dipahami masyarakat luas," jelas Tosin.

Baca Juga: Wah, Operasional Bus SiBona Terancam Mandek akibat Lonjakan BBM Nonsubsidi: Pemkab Gunungkidul Upayakan Ini 

Tahun ini, lanjut dia, total peserta IWFP mencapai 57 Biksu yang berasal dari tiga negara, yakni Thailand sebanyak 43 orang, Malaysia ada 4 orang, Laos 3 orang, termasuk tambahan peserta yang bergabung dalam perjalanan.

Meski demikian, dua Biksu terpaksa menjalani perawatan akibat kelelahan. "Sudah kami istirahatkan untuk menghindari cedera lebih jauh," terang Tosin.

Dia menambahkan, selama perjalanan, para Biksu menolak fasilitas mewah seperti hotel dan memilih tinggal di tempat terbuka atau bangunan sederhana. "Bahkan di Bali mereka tidur di barak terbuka. Di sini masih lebih baik karena ada tempat bernaung," paparnya.

Rombongan Biksu dijadwalkan melanjutkan perjalanan pada Kamis (28/5) pagi menuju Vihara Mendut. Lalu, bermalam di Vihara Catra Jinadhammo sebelum akhirnya mencapai puncak Candi Borobudur sebagai titik akhir perjalanan.

Baca Juga: Komisi D DPRD DIY Soroti Kekerasan Jalanan Anak, Peran Keluarga Faktor Utama dalam Pengawasan Anak

Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha Kementerian Agama RI Nyoman Suriadarma menegaskan, perjalanan ini memang dirancang sebagai simbol kuat dari nilai-nilai perdamaian yang diusung dalam perayaan Waisak 2026. "Perjalanan ini ingin mengumandangkan kepada dunia bahwa keharmonisan, kerukunan, dan kebersamaan harus terus dihadirkan," terangnya.

Dia menambahkan, keberhasilan perjalanan para Biksu hingga tiba di Magelang tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Mulai dari panitia pusat dan daerah, aparat keamanan, tenaga kesehatan, hingga warga yang menyambut dengan antusias di setiap daerah yang dilalui. (aya/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#titd hok an kiong #Borobudur #biksu #Thudong #Vihara Mendut