MUNGKID - Menjelang perayaan Waisak 2570 BE/2026, arca unfinished Buddha dipindahkan dari lokasi sebelumnya ke Lapangan Kenari di zona 1. Prosesi pemindahan arca pun dilakukan dengan melibatkan ritual adat dan doa bersama.
Arca unfinished Buddha merupakan satu artefak yang selama ini memiliki posisi unik di Borobudur. Selain nilai historisnya, arca ini juga kerap dimaknai secara spiritual oleh sebagian umat. Karena itu, pemindahannya memerlukan pendekatan yang hati-hati, baik dari sisi konservasi maupun sensitivitas budaya.
Kini, arca tersebut ditempatkan di Lapangan Kenari. Tepatnya di area barat daya candi, di antara dua pohon kenari yang memiliki nilai historis dan kerap dikaitkan dengan aktivitas spiritual di kawasan tersebut. Lokasi itu dinilai lebih mampu mengakomodasi aktivitas ritual tanpa mengganggu struktur utama candi.
Baca Juga: 17 Ribu Warga Terima Manfaat Kurban Muhammadiyah Magelang, Animo Berkurban Dinilai Tetap Tinggi di Tengah Tekanan Ekonomi
Kepala Museum dan Cagar Budaya (MCB) Esti Nurjadin menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan Borobudur. Menurutnya, pengelolaan situs warisan dunia tidak bisa hanya berfokus pada pelestarian fisik, tetapi juga harus memberi ruang bagi praktik spiritual yang hidup di masyarakat.
"Penataan ini dilakukan dengan tetap menjunjung prinsip pelestarian cagar budaya sekaligus menghormati nilai-nilai yang hidup di masyarakat," ujarnya Rabu (27/5).
Namun, penataan ini juga tidak lepas dari agenda besar pemerintah dalam mentransformasi Borobudur sebagai destinasi spiritual dan ziarah kelas dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, arah pengembangan kawasan ini memang mulai bergeser. Tidak hanya sebagai objek wisata massal, tetapi juga sebagai ruang kontemplatif yang lebih tertata.
Baca Juga: Diduga Stres karena Kerumunan, Sapi Warga Gamping Sleman Lepas Hingga Masuk Ring Road
Direktur Utama InJourney Maya Watono menyebut, pengelolaan Borobudur ke depan harus mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian, spiritualitas, dan pariwisata. Menurutnya, ketiga aspek ini tidak bisa dipisahkan, tetapi juga tidak selalu mudah untuk diselaraskan. "Penataannya harus sensitif terhadap semua kepentingan tersebut," katanya.
Dia menilai, pemindahan arca sebagai bagian dari penataan sirkulasi kegiatan ritual. Sebab selama ini, aktivitas ibadah kerap bercampur dengan arus wisatawan. Dengan penempatan baru di area penyangga, dia berharap, aktivitas spiritual dapat berlangsung lebih tertib dan terfokus. Tanpa mengganggu struktur utama candi maupun pergerakan wisatawan. (aya/eno)