MUNGKID - Program pengembangan pertanian dataran tinggi (upland) di Kabupaten Magelang mulai menunjukkan hasil konkret. Bahkan produk kopi di Desa Banjarsari, Grabag mulai menembus pasar ekspor. Namun, kualitas dan tata kelola pascapanen masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji menuturkan, program upland telah memberi dampak nyata bagi kebangkitan kopi lokal. Dia menyebut, kawasan Banjarsari memiliki sejarah panjang sebagai wilayah penanaman kopi sejak era kolonial.
Hanya saja, eksistensinya sempat tenggelam di bawah dominasi nama besar kopi Temanggung. "Baru sejak 2000-an kita mulai bangkit, berbenah, dan sekarang mulai terlihat hasilnya," ujarnya saat kunjungan, Senin (25/5).
Kebangkitan itu, menurutnya, tidak terjadi secara instan. Konsolidasi petani melalui kelembagaan dan organisasi menjadi faktor kunci yang mengubah pola produksi dari sporadis menjadi lebih terintegrasi.
Model kolaborasi antarkelompok tani dinilai mampu meningkatkan kualitas sekaligus posisi tawar petani di pasar. Perubahan tersebut mulai terlihat dari capaian ekspor. Untuk pertama kalinya, kopi yang diproduksi petani lokal Magelang berhasil menembus pasar internasional, yakni Uni Emirat Arab.
Dalam waktu dekat, permintaan lanjutan bahkan mencapai 80 ton. Meski begitu, capaian ini belum sepenuhnya mencerminkan kematangan sistem produksi.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto menilai, keberhasilan ekspor tersebut baru langkah awal dari proses panjang pembenahan sektor kopi di Magelang. Dia mengingatkan, sejarah panjang kopi di kawasan ini seharusnya menjadi modal besar untuk membangun identitas dan daya saing yang lebih kuat.
Namun, lanjut dia, tanpa peningkatan kualitas yang konsisten, peluang pasar global bisa dengan cepat hilang. Ekspor itu bukan hanya soal volume, tapi kualitas. "Harus higienis, standar terpenuhi, dan konsisten. Dari budi daya sampai pascapanen masih banyak yang harus diperbaiki, terutama di pengeringan," bebernya.
Baca Juga: Gempa Dahsyat Dua Dasawarsa lalu Masih Teringat Jelas bagi Penghuni Rumah Domes Prambanan Sleman
Catatan tersebut menyoroti persoalan klasik dalam pengembangan kopi, yakni rendahnya standar pascapanen. Proses pengeringan yang belum optimal, penanganan yang belum higienis, hingga variasi mutu biji kopi menjadi tantangan yang kerap menghambat daya saing di pasar ekspor.
Selain itu, produktivitas kopi robusta juga dinilai masih bisa ditingkatkan. Hermanto menyebut, perbaikan teknik budi daya dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci untuk mengejar produktivitas sekaligus menjaga kualitas. (aya)
Editor : Heru Pratomo