MUNGKID - Warga Dusun Pucungan, Candirejo, Borobudur bernama Ahmad Rohadi, 27 dilaporkan hilang terseret arus Sungai Progo saat menjala ikan pada Minggu (24/5). Pada hari pertama, operasi pencarian nihil dan dilanjutkan pada hari kedua dengan memperluas area hingga radius tiga kilometer (km) dari titik kejadian.
Rescuer Basarnas Unit Siaga SAR Borobudur, Ryan Aris Permana menjelaskan, pada hari kedua operasi, pencarian dilakukan dengan berbagai metode untuk memaksimalkan peluang menemukan korban. Seperti menggunakan perahu rafting untuk penyisiran air.
"Kemudian pencarian darat di sepanjang aliran sungai, dan jika memungkinkan akan dilakukan penyelaman di titik-titik tertentu," ujarnya di lokasi, Senin (25/5).
Ryan menyebut, fokus pencarian saat ini masih berada dalam radius tiga km dari lokasi awal korban dilaporkan hanyut. Tim juga mempertimbangkan kondisi arus sungai yang mengalami peningkatan debit sejak hari pertama kejadian.
Baca Juga: Klik File Undangan APK, WhatsApp Wakil Ketua DPRD Kota Jogja Sempat Diretas
"Bukan banjir, tetapi ada penambahan debit air. Itu yang menjadi salah satu kendala di lapangan (pada hari pertama)," katanya.
Dia menjelaskan, peristiwa bermula ketika korban bersama temannya menjala ikan di Sungai Progo. Temannya lebih dulu menyeberang hingga ke bagian tengah sungai. Tidak lama kemudian, korban menyusul, namun diduga tidak kuat melawan derasnya arus.
Upaya penyelamatan sempat dilakukan. Teman korban berusaha melemparkan tali jala ke arah Rohadi, namun korban tidak berhasil meraih dan akhirnya hanyut terbawa arus di aliran Tunggak Sungai Progo, tepatnya di wilayah Dusun Kerekan.
Warga bersama relawan setempat langsung melakukan pencarian. Pencarian hari pertama sempat dihentikan pada pukul 17.30 karena kondisi gelap dan keterbatasan jarak pandang.
"Namun, pemantauan tetap dilakukan hingga malam hari di sejumlah titik, termasuk di Jembatan Ancol Bligo, Ngluwar," terangnya.
Pada hari kedua, tim SAR kembali memulai operasi. Strategi pencarian dibagi dalam tiga metode utama, yakni penyisiran darat, penyisiran menggunakan perahu, serta penyelaman pada titik-titik yang dinilai berpotensi.
Ryan menjelaskan, selain arus yang meningkat, kondisi geografis sungai juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim SAR. Beberapa titik memiliki kedalaman dan pusaran air yang cukup berbahaya, sehingga penyelaman hanya dilakukan secara terbatas dan dengan pertimbangan matang. (aya)
Editor : Iwa Ikhwanudin