MUNGKID - Kebutuhan tenaga kerja konstruksi yang kompeten di Kabupaten Magelang terus meningkat, namun belum diimbangi dengan jumlah pekerja yang tersertifikasi. Dari sekitar 8.200 tenaga konstruksi yang ada, kurang dari 10 persen di antaranya telah memiliki sertifikat keahlian.
Pemkab Magelang melalui UPTD Jasa dan Peralatan Konstruksi DPUPR pun mengakselerasi pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja. Kepala UPTD Jasa dan Peralatan, Konstruksi DPUPR Kabupaten Magelang Evi Yuliyanti menuturkan, peserta pelatihan difokuskan pada kelompok masyarakat desil 1 dan 2 berdasarkan data kemiskinan.
"Target kami dua, pekerja konstruksi yang sudah ada supaya naik kompetensinya, dan pengangguran yang ingin masuk ke bidang konstruksi," ujar Evi, Kamis (21/5).
Baca Juga: Keren! Skor SPM Pendidikan Kota Jogja Peringkat Pertama se-Indonesia, Ini Kata Hasto Wardoyo
Minimnya tenaga tersertifikasi, menurut Evi, tidak bisa dipandang sebagai persoalan administratif semata. Di lapangan, kualitas bangunan sangat ditentukan oleh keterampilan pekerja.
Ketidaksesuaian teknik kerja kerap menjadi penyebab rendahnya mutu konstruksi, meskipun perencanaan telah dibuat dengan baik. "Perencanaan bisa bagus, tapi kalau pekerjanya tidak paham teknik yang benar, hasilnya tetap tidak optimal. Tukang itu justru fondasi kualitas bangunan," katanya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemkab menggandeng sektor swasta melalui skema CSR. Kerja sama dilakukan dengan produsen bahan bangunan seperti Lemkra dan Granito, yang menyediakan perlengkapan pelatihan hingga material praktik.
Program berbasis kolaborasi ini mulai dijalankan sejak 2024 dan dinilai efektif meningkatkan kapasitas pelatihan. Sebelumnya, tanpa dukungan CSR, pemerintah daerah hanya mampu melatih sekitar 30 orang per tahun. Kini, jumlah peserta melonjak menjadi lebih dari 200 orang per tahun atau meningkat hingga 2.000 persen.
Evi mengakui, tantangan terbesar bukan hanya keterbatasan anggaran, tetapi juga rendahnya minat pekerja untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi. Namun, pemberian sertifikasi gratis, yang di pasaran bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah mulai mendorong partisipasi. "Yang nilainya bagus nanti kami sertifikasi gratis. Ini jadi motivasi bagi mereka," lontarnya.
Baca Juga: Efisiensi dan Tak Bermewah-mewah, Sri Sultan HB X Ungkap Alasan Garebeg Besar Disederhanakan
Branch Manager PT Guna Bangun Jaya (Lemkra) Lusia Desy mengatakan, pelatihan menjadi sarana edukasi bagi tenaga kerja terkait penggunaan teknologi material bangunan. Seperti semen instan untuk perekat dan waterproofing. "Kalau keterampilan meningkat, otomatis produktivitas naik, pendapatan mereka juga bisa meningkat," tuturnya.
Senada, Technical Manager PT Granito Guna Building Ceramics Yoos Irawan menyebut, pelatihan menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan teknik pemasangan yang benar. Sekaligus membekali pekerja agar lebih mandiri di lapangan. "Harapannya mereka punya bekal cukup, sehingga ketika bekerja sudah paham teknik yang benar," paparnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo