KEBUMEN - Penguatan nilai tukar dolar terhadap rupiah mulai dirasakan kalangan petani di Kebumen.
Kenaikan kurs dolar seketika membuat harga kebutuhan pertanian merangkak naik. Seperti halnya pupuk, pestisida dan berbagai jenis obat pertanian.
Pengurus Pusat Koperasi Unit Desa (Puskud) Kebumen Sumono mengatakan, dalam beberapa pekan terakhir terjadi fluktuasi harga obat pertanian dan pupuk nonsubsidi.
Baca Juga: Rayakan HUT ke-51 di Level Asia, Harapan Suporter dan Manajemen saat Usia Emas PSS Sleman
Kondisi ini tak lepas karena stabilitas nilai tukar dolar terhadap rupiah tak terjaga. Lesunya nilai tukar rupiah dikhawatirkan berdampak pada daya beli petani terhadap kebutuhan pertanian. "Harga hampir naik semua, semenjak dolar naik," jelasnya, Rabu (20/5).
Dia mengungkapkan, kenaikan harga pupuk dan obat pertanian mulai terjadi sejak awal bulan. Namun lonjakan harga paling signifikan dirasakan pada pekan ini.
Seperti pupuk nonsubsidi jenis urea, dari sebelumnya dijual sekitar Rp 400 ribu, sekarang dibanderol Rp 600 ribu per sak. Lalu, pupuk jenis ponska nonsubsidi yang awalnya berkisar Rp 240 ribu kini Rp 300 ribu per 25 kilogram.
Selain pupuk, kenainan juga dirasakan untuk obat pertanian. Seperti pestisida cair yang awalnya Rp 70 ribu, sekarang berkisar Rp 80 ribu untuk ukuran satu liter. Sama juga jenis insektisida granul, harga awalnya sekitar Rp 60 ribu kini Rp 70 ribu.
"Kami sekarang belum berani stok banyak. Susah, pupuk sampai Rp 600 ribu. Yang beli takut," ucap penjual pupuk di Jalan Arumbinang, Kebumen ini.
Baca Juga: Temui Massa Aksi, Rektor UPNVY Siap Surati Kementerian untuk Pecat Dosen Pelaku Kekerasan Seksual
Sumono belum mengetahui pasti sampai kapan kondisi ini akan terus terjadi. Namun, dia memprediksi lonjakan harga akan bertahan lama selagi nilai tukar dolar tak kunjung stabil.
Hal ini menurutnya karena sebagian besar bahan pupuk maupun obat pertanian bergantung pada pasokan di luar negeri. "Pembeli ya kaget, tiba-tiba harga naik. Tugas saya menjelaskan kondisi sebenarnya," bebernya.
Petani muda asal Desa Kedungwaru, Kecamatan Karangsambung Eko Susanto, 33, mengaku khawatir atas lonjakan harga kebutuhan pertanian seperti sekarang. Kondisi ini memaksa dirinya merogoh kocek lebih demi mencukupi ongkos produksi.
Baca Juga: Ekonomi Gunungkidul Tumbuh 5,47 Persen, Pemkab Akui Masih Ada Gap Realisasi Fisik dan Keuangan
Belum lagi, dia juga cemas karena dihadapkan dengan harga hasil panen yang tak pasti. "Keberatan banget pupuk urea nonbantuan yang awalnya sekitar Rp 425 ribu, sekarang tembus Rp 640 per kantong," ungkapnya.
Dia mengaku, kenaikan harga pupuk dan obat pertanian diluar kendali petani. Selama ini, kata Eko, dia cenderung memilih pupuk nonsubsidi karena menurutnya kuota dari pemerintah belum mencukupi kebutuhan sesuai luas lahan.
Di satu sisi kualitas pupuk di luar subsidi jauh lebih menjanjikan untuk hasil produksi pertanian. "Saya mau beli pupuk lagi takut, karena harganya diluar prediksi. Ini belum tahu, ujungnya mau untung apa buntung," ujarnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo