Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Turis Asing Diuntungkan, Biaya Operasional Meningkat Dolar Menguat, Pelaku Usaha Borobudur Hadapi Dilema

Naila Nihayah • Senin, 18 Mei 2026 | 21:28 WIB
WISATA EDUKASI: Pawon Luwak Coffee terletak di Dusun Brojonalan, Wanurejo, Borobudur tidak hanya menawarkan sajian kopi, tapi juga edukasi pengolahan kopi. (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
WISATA EDUKASI: Pawon Luwak Coffee terletak di Dusun Brojonalan, Wanurejo, Borobudur tidak hanya menawarkan sajian kopi, tapi juga edukasi pengolahan kopi. (NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)

 

MUNGKID - Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah membawa dampak bagi pelaku usaha di kawasan wisata Borobudur. Di satu sisi pelemahan rupiah membuat Indonesia menjadi destinasi yang lebih murah bagi wisatawan mancanegara. Namun di sisi lain pelaku usaha lokal justru terbebani kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional. 


Pemilik Pawon Luwak Coffee Prana Aji menuturkan, dampak paling nyata saat ini justru dirasakan pada sisi biaya. Terutama bahan baku yang berkaitan dengan komponen impor. "Yang paling terasa itu harga bahan baku luar naik. Dampaknya langsung ke masyarakat," ujarnya, Senin (18/5). 

Baca Juga: Angka Kemiskinan 6,71 Persen, Masih Ada 26.747 Keluarga Miskin di Sleman


Secara teori, kata Aji, pelemahan rupiah membuat biaya berwisata di Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan asing (wisman). Hal ini berpotensi meningkatkan kunjungan ke destinasi seperti kawasan yang menjadi magnet utama wisata. 


 Namun, Aji menilai dampak tersebut belum terasa signifikan dalam jangka pendek. Satu faktornya adalah pola perjalanan wisatawan mancanegara yang telah direncanakan jauh hari sebelumnya. 

Baca Juga: Pemkab Gunungkidul Sebut Kawasan KPI Candirejo Semin Potensial untuk Industri Wood Pellet


"Kalau wisatawan asing sebenarnya diuntungkan. Tapi untuk kunjungan saat ini belum begitu terasa. Karena mereka biasanya sudah booking jauh-jauh hari," jelasnya.
Di tengah potensi peningkatan wisatawan asing, kata dia, pelaku usaha, justru menghadapi tekanan dari sisi biaya. Kenaikan harga bahan baku, energi, hingga transportasi menjadi tantangan tersendiri.


Meski untuk komoditas kopi masih relatif stabil karena menggunakan stok lama, Aji mengakui, penyesuaian harga kemungkinan tidak terhindarkan ke depan. "Kalau sekarang belum naik karena masih stok lama. Tapi ke depan biasanya akan ikut menyesuaikan," katanya. 

Baca Juga: Meningkat 189 Persen, 246 Ribu Penumpang Naik KAJJ selama Libur Panjang: Daop 6 Catat Pergerakan Wisatawan Didominasi Arus Kedatangan


Dia menambahkan, menguatnya dolar dan melemahnya rupiah praktis membuat dilema bagi masyarakat Borobudur yang mayoritas masih bergantung pada sektor agraris. Di satu sisi, sektor pariwisata berpotensi mendapat keuntungan dari meningkatnya daya tarik bagi turis asing.


Namun di sisi lain masyarakat umum harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok. "Ini dilema. Wisata bisa naik, tapi masyarakat umum justru terbebani harga-harga yang naik," bebernya. 


Ke depan dia berharap, pemerintah dapat menjaga stabilitas dan memberikan kemudahan akses bagi wisatawan, terutama dalam hal regulasi kunjungan ke Candi Borobudur. Menurutnya, kepastian dan kemudahan menjadi faktor utama dalam menarik wisatawan untuk datang. (aya/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#pelaku usaha #WISATAWAN ASING #turis #Kopi #komoditas