Rangkaian kegiatan diawali dengan sembahyang Tri Dharma, Dhammadesana atau pembabaran Dhamma, dan dilanjutkan dengan puja bakti. Selain ibadah, panitia juga menggelar donor darah serta menyalurkan bantuan sosial kepada warga sekitar.
Pembina Yayasan Tri Bhakti Kota Magelang David Herman Jaya mengutarakan, perayaan Waisak di TITD Liong Hok Bio digelar rutin setiap tahun dengan konsep sederhana namun tertata. "Kami tidak hanya membaca paritta, tetapi juga ada persembahan, donor darah, dan pembagian sembako," ujarnya, Sabtu malam (16/5).
David menjelaskan, kegiatan sosial menjadi bagian penting dalam setiap perayaan keagamaan, termasuk Waisak. Hal ini tidak lepas dari kondisi ekonomi dan dinamika global yang turut berdampak pada warga.
Sebanyak 1.000 paket sembako disiapkan untuk dibagikan kepada warga. Paket tersebut berisi kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, teh, dan mi instan. Selain itu, kegiatan donor darah juga digelar terbuka untuk umum. Tidak hanya umat Buddha, tetapi juga umat agama lain.
Wakil Ketua Harian TITD Liong Hok Bio Magelang Gunawan menjelaskan, bantuan tidak hanya difokuskan di sekitar kelenteng, tetapi juga menjangkau wilayah yang lebih luas. "Sasarannya warga yang membutuhkan, tidak hanya di sekitar sini," terangnya.
Untuk kegiatan donor darah, panitia menyiapkan insentif berupa paket sembako bagi 100 pendonor pertama sebagai bentuk apresiasi. Selain pembagian sembako dan donor darah, rangkaian Waisak masih akan berlanjut dengan sejumlah kegiatan keagamaan lainnya, seperti ritual pemandian rupang Buddha.
Perayaan Waisak di TITD Liong Hok Bio tahun ini dipimpin oleh Bante Sri Pannavaro Mahathera, yang menekankan pentingnya welas asih sebagai inti ajaran Buddha. Dalam ceramahnya, dia mengisahkan perjalanan Siddharta Gautama yang meninggalkan kehidupan istana demi mencari jalan keluar dari penderitaan manusia.
Menurutnya, keputusan tersebut lahir dari kepedulian mendalam terhadap sesama. "Siddharta tidak ingin bahagia sendiri, tetapi membantu orang lain bebas dari penderitaan," paparnya.
Dia juga mengibaratkan kehidupan seperti menyeberang jalan yang ramai. Seseorang tidak hanya berusaha menyeberang sendiri, tetapi juga membantu orang lain agar selamat sampai tujuan. (aya)