Sapi jenis simental berbobot 1,053 ton milik Sapari, warga Wonolelo, Kabupaten Magelang lolos seleksi ketat untuk menjadi sapi kurban Presiden pada program bantuan masyarakat (banmas). Nantinya, sapi dengan harga ratusan juta rupiah itu akan diserahkan ke MAJT An-Nuur Kabupaten Magelang menjelang Idul Adha.
Bagi Sapari, sapi yang diberi nama Batu Aji itu bukan sekadar hewan ternak. Melainkan hasil dari ketekunan panjang yang akhirnya terbayar. Siapa sangka, sapi yang dirawatnya selama hampir satu setengah tahun itu kini dipastikan menjadi hewan kurban Presiden pada Idul Adha.
Batu Aji dibelinya dari Pasar Jelok, Kabupaten Boyolali saat usianya sekitar dua tahun dengan harga Rp 42,65 juta. Sejak masuk kandang miliknya, sapi itu dirawat intensif selama 17 bulan. Hasilnya, bobot sapi tersebut kini mencapai 1 ton 53 kilogram (kg).
"Dari awal masuk kandang sampai sekarang alhamdulillah sehat terus. Itu yang bikin saya semakin sayang," ujarnya melalui sambungan telepon, Kamis (14/5).
Nama Batu Aji sendiri bukan tanpa makna. Batu merujuk pada keteguhan, sementara Aji dalam bahasa Jawa berarti berharga. Bagi Sapari, sapi itu memang memiliki nilai lebih, bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga emosional.
Dia mengatakan, merawat sapi berbobot besar di kawasan pegunungan bukan perkara mudah. Suhu dingin di lereng Merbabu menuntut perhatian ekstra, mulai dari pakan hingga kebersihan.
Saban hari, Sapari memberi pakan dua kali, terdiri dari campuran ampas tahu, konsentrat, dan bekatul, ditambah hijauan serta sesekali singkong. Dia juga rutin memandikan sapi, menyesuaikan kondisi cuaca.
"Kalau cuaca hangat, dimandikan. Kalau dingin ya lihat kondisi. Tapi yang penting rutin dirawat," katanya.
Kedisiplinan itu menjadi kunci. Terlebih risiko beternak sapi tidak kecil. Selain biaya pakan yang terus naik, peternak juga dihadapkan pada ancaman penyakit seperti PMK dan LSD yang sempat melanda beberapa waktu terakhir.
Sapari menyebut, perjalanan Batu Aji menjadi pilihan kurban Presiden bermula dari informasi yang dibawa rekannya, yang menghubungkan Sapari dengan pencarian sapi berbobot besar oleh Dinas Peternakan dan Perikanan (dispeterikan).
Setelah melalui proses seleksi, sapi tersebut dinyatakan layak dan dibeli dengan harga Rp 126 juta. Sapari mengaku, sejak awal sudah mendapat informasi bahwa sapi tersebut akan digunakan untuk kurban Presiden.
Baca Juga: Nelayan yang Tenggelam di Pantai Baru Ditemukan dalam Kondisi Meninggal Dunia
Meski demikian, dia tetap menjalani prosesnya seperti biasa, fokus pada perawatan. "Alhamdulillah senang sekali. Tidak menyangka sapi yang saya rawat bisa sampai dibeli untuk kurban presiden," ucapnya.
Bagi Sapari, pencapaian ini bukanlah hasil instan. Dia mengaku mulai beternak sejak 2011, dengan modal pinjaman kredit usaha rakyat (KUR). Dari usaha kecil itu, ia perlahan membangun kandang dan menambah jumlah ternak.
Saat ini, dia memelihara tujuh ekor sapi, yang sebagian besar sudah terjual untuk kebutuhan kurban, termasuk ke sejumlah masjid di luar daerah seperti Jogja dan Kendal. Namun, harga pakan yang tinggi dan risiko penyakit membuat usaha ini penuh ketidakpastian.
Baca Juga: Nelayan yang Tenggelam di Pantai Baru Ditemukan dalam Kondisi Meninggal Dunia
"Peternak sekarang harus benar-benar bertahan. Biaya besar, risikonya juga besar," lontarnya.
Meski begitu, dia melihat, beternak sebagai cara menabung jangka panjang. Keuntungan memang tidak selalu besar, tetapi jika dikelola dengan baik, hasilnya bisa dirasakan di momen tertentu seperti Iduladha.
Kepala Dispeterikan Kabupaten Magelang Joni Indarto memastikan, kondisi sapi dalam keadaan sehat dan layak. "Sapinya sehat dan sudah deal. Pemilik juga sudah diundang untuk penyelesaian administrasi," terangnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo