KEBUMEN - Peternak di Kebumen mengaku tak begitu dilibatkan dalam keberlangsungan program makan bergizi gratis (MBG). Program yang digadang-gadang mampu menyerap hasil produksi peternak lokal ternyata dianggap hanya sebatas harapan semu.
Ketua Forum Peternak Unggas Bersatu (FPUB) Kebumen Juniadi Prasetyo menyatakan, MBG sejauh ini belum memberikan asas manfaat lebih bagi peternak lokal.
Program unggulan presiden ini dinilai gagal membuka peluang pemberdayaan sekaligus sebaai daya ungkit ekonomi di kalangan peternak lokal. Buktinya keterserapan hasil produksi telur dari peternak lokal untuk mencukupi kebutuhan MBG masih sangat minim.
"Pusing semua. Harusnya telur bisa diambil MBG, lah ini stok menumpuk," ungkapnya kepada Radar Jogja, Senin (11/5).
Juniadi mengungkapkan, banyak dari peternak lokal terancam rugi alias gulung tikar. Mereka rela mengambil kredit modal dari bank dalam jumlah tidak sedikit. Harapannya hanya satu, hasil produksi yang melimpah nantinya dapat terserap MBG.
Namun faktanya hingga saat ini program MBG meleset dari prediksi dari peternak. "Bukti MBG berpihak ke peternak lokal belum kami rasakan," tegasnya.
Menurut Juni peternak lokal kini sedang berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi peternak harus menanggung biaya pakan dan operasional yang terus melejit.
Di lain sisi mereka kelimpungan karena peyerapan tidak sebanding dengan ketersediaan produksi. Kondisi ini mengakibatkan antara stok dan kebutuhan tidak ideal. Ujungnya terjadi penurunan harga di tingkat peternak.
"Di kami, ada 36 peternak khususnya telur dengan jumlah lebih dari 150 pekerja. Semua sedang perihatin," ucapnya.
Menyikapi kondisi sulit seperi sekarang, Juni pun bersama rekan peternak lain meminta solusi dari pemerintah daerah dan DPRD. Dia telah berkirim surat ke DPRD Kebumen untuk audiensi mengurai permasaahan yang dihadapi.
Dia berharap eksekutif bersama legislatif nantinya dapa berpihak kepada peternak lokal. "Surat sudah masuk, tinggal tunggu tindak lanjutnya mau seperti apa," jelas Juni.
Sementara itu, salah satu peternak Hasan Basri, 42, mengaku bingung dengan situasi seperti sekarang. Banyak program pemerintah seperti MBG yang mestinya membawa untung bagi peternak, namun faktanya berkata lain.
Baca Juga: Dipicu Provokasi, Polisi Tangkap Sembilan Pelaku Pengeroyokan di Magelang yang Tewaskan Remaja
Dia juga mengungkapkan peternak lokal kini juga harus dihadapkan kompetisi dengan peternak dari luar daerah. Karena harga pasar untuk kebutuhan MBG jauh lebih murah.
Faktor ini yang membuat peternak lokal perlahan tersingkirkan. "Stok dari luar daerah lebih banyak. Akhirnya yang di Kebumen tidak terbeli," ungkapnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo