MUNGKID - Pemkab Magelang mulai menguji coba program Blonjo Warung Tonggo sebagai upaya menggerakkan kembali ekonomi skala kecil dari lingkungan terdekat. Dalam tahap awal, ratusan pelaku UMKM dilibatkan, sementara aparatur sipil negara (ASN) didorong menjadi penggerak utama transaksi di warung-warung tetangga.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disdagkop UKM) Kabupaten Magelang Edi Wasono menjelaskan, program ini telah memasuki tahap uji coba terbatas pada Rabu (6/5) di tiga wilayah. Yakni Kelurahan Sawitan serta Desa Mendut dan Deyangan.
Sebanyak 155 pelaku UMKM dilibatkan dalam fase awal tersebut, setelah melalui proses seleksi dari total 266 usulan yang masuk. Edi menyebut, pelaku usaha yang dipilih merupakan mereka yang dinilai siap, termasuk dalam hal penerapan transaksi non-tunai.
"Yang terlibat ini adalah pelaku UMKM yang sudah siap, termasuk untuk transaksi non-tunai," ujarnya, Kamis (7/5).
Dalam skema yang disusun, lanjut dia, ASN diarahkan untuk mengalokasikan sebagian pengeluarannya melalui dompet digital. Kemudian digunakan untuk berbelanja langsung di warung atau pelaku usaha kecil di sekitar tempat tinggal mereka.
"ASN nantinya belanja di warung terdekat dengan tempat tinggalnya. Ini untuk menggerakkan ekonomi lokal," kata Edi.
Berbeda dengan program bantuan sosial pada umumnya, Blonjo Warung Tonggo tidak menetapkan batas minimal transaksi. ASN diberikan keleluasaan untuk menyesuaikan nilai belanja dengan kemampuan masing-masing, mengingat perbedaan tingkat pendapatan di tiap golongan.
Sementara itu, Kepala Bidang UMKM, Disdagkop UKM Kabupaten Magelang Pujianto menyebut, evaluasi awal akan dilakukan pada Juni 2026. Evaluasi ini akan mengukur dampak program terhadap peningkatan omzet dan perputaran ekonomi di tingkat usaha mikro.
Dia menargetkan, jumlah ASN yang terlibat akan terus bertambah secara bertahap. Pada tahun ini, pemerintah menargetkan sekitar 1.000 ASN dapat bergabung dalam program tersebut.
"Jumlah ASN akan ditingkatkan secara bertahap. Tahun ini ditargetkan sekitar 1.000 ASN bisa terlibat," jelasnya.
Di sisi lain, minat terhadap program ini juga terlihat dari banyaknya usulan warung yang masuk. Hingga kini, tercatat sekitar 900 usulan dari ASN yang mengajukan warung di lingkungan mereka untuk dilibatkan.
"Yang kita dorong adalah warung kecil. Kalau yang besar sudah bisa bertahan sendiri," tegas Pujianto.
Sementara itu, Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengutarakan, program ini bukan sekadar langkah jangka pendek. Melainkan bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi daerah di tengah tekanan yang dihadapi usaha kecil.
Menurutnya, keterlibatan ASN menjadi kunci awal untuk membangun ekosistem ekonomi berbasis komunitas. Jika pola belanja ini konsisten dilakukan, dampaknya diyakini akan meluas ke berbagai lapisan masyarakat.
"Intinya bagaimana kita semua, khususnya ASN, bisa ikut berpartisipasi dalam mengamankan pertumbuhan ekonomi daerah," paparnya.
Dia mengatakan, pemkab sengaja memulai program ini dari wilayah terbatas untuk menguji efektivitas sistem. Sekaligus mengumpulkan data dan masukan sebelum diterapkan secara luas.
"Kita mulai dari tiga lokasi dulu. Dari sini kita kumpulkan data dan masukan untuk perbaikan sistem ke depan," ucap Grengseng.
Dia juga menekankan, keberhasilan program sangat bergantung pada keteladanan ASN. Jika mereka konsisten berbelanja di warung tetangga, kebiasaan tersebut diharapkan akan diikuti oleh masyarakat umum, termasuk pemerintah desa, tenaga pendidik, hingga komunitas lokal. (aya)
Editor : Heru Pratomo