Pembangunan Pura Jagatnatha di kawasan Alun-alun Kota Magelang resmi dimulai. Keberadaannya digadang-gadang sebagai langkah penting dalam penyediaan sarana ibadah sekaligus penguatan simbol toleransi antarumat beragama di kota tersebut.
Prosesi pembangunan diawali dengan upacara Ngeruwak Pertiwi. Yakni ritual memohon izin untuk membuka dan mengolah tanah yang akan digunakan sebagai tempat ibadah. Kemudian dilanjutkan dengan peletakan batu pertama oleh forkopimda.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Magelang I Gede Mahardika menjelaskan, ritual tersebut merupakan syarat wajib dalam tradisi Hindu sebelum pembangunan tempat suci dimulai.
"Ini harus dilakukan pada hari baik, dan hari ini adalah waktu yang tepat," ujarnya, Rabu (6/5).
Ritual tersebut dipimpin oleh sulinggih atau rohaniwan Hindu. Prosesi ini menjadi penanda dimulainya pembangunan Pura Jagat Natha yang dirancang sebagai pusat ibadah umat Hindu di Kota Magelang.
Secara filosofis, Jagat Natha dimaknai sebagai representasi perlindungan, pemeliharaan, dan penyucian alam semesta. Konsep tersebut diwujudkan dalam desain pura yang akan dibangun dengan pembagian tiga zona utama atau Tri Mandala.
Baca Juga: Rombongan Pelaku Pembacokan di Godean Ternyata Masih Berstatus Pelajar! Sengaja Berkeliling Cari Sasaran, Satu Orang Masih DPO
I Gede menjelaskan, bagian Utama Mandala merupakan area paling suci, akan dibangun tiga pelinggih utama. Yakni Padmasana sebagai tempat berstana Tuhan, Panglurah sebagai simbol penjaga wilayah termasuk Gunung Tidar, serta Gedong Suci untuk penyimpanan sarana ibadah.
Sementara itu, Madya Mandala difungsikan sebagai area penunjang, termasuk tempat penyimpanan gamelan dan aktivitas persiapan upacara. Adapun Nista Mandala di bagian terluar akan dilengkapi fasilitas seperti Bale Kulkul atau kentongan yang digunakan sebagai penanda kegiatan keagamaan.
Pura ini dibangun di atas lahan seluas 9 x 25 meter yang merupakan aset Pemkot Magelang. Lokasinya berada di kawasan Pendopo Aloon-aloon dan berdampingan dengan rumah ibadah agama lain, sehingga memperkuat karakter kawasan sebagai ruang keberagaman.
Baca Juga: PKJ Digadang Cegah Tawuran, Tapi Sehari Usai Launching Malah Pecah Aksi Tawuran Antarpelajar: Begini Penjelasan Disdikpora DIY
Dia menyebut, pembangunan pura ini tidak menggunakan dana pemerintah, melainkan berasal dari swadaya umat Hindu serta dukungan lintas komunitas dan pengusaha. "Kami bangun bertahap sesuai kemampuan. Yang penting semangat kebersamaan dan dukungan itu sudah luar biasa," katanya.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyobo menegaskan, pembangunan Pura Jagat Natha merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga dan memperkuat nilai toleransi di wilayahnya. "Ini adalah upaya memperkuat simbol persatuan dan toleransi, khususnya di kawasan alun-alun," bebernya.
Proses pembangunan pura sendiri, lanjut Damar, tidak berlangsung mudah. Semula lokasi pembangunan direncanakan di kawasan Loka Budaya.
Namun karena dinilai kurang representatif, pemkot mencari alternatif lain hingga akhirnya memperoleh lahan yang sebelumnya merupakan aset Kementerian Keuangan.
"Ini seperti jawaban dari doa kita bersama. Tidak ada yang kebetulan. Lahan ini akhirnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, termasuk pembangunan pura," lontarnya.
Di satu sisi, kata dia, keberadaan Pura Jagat Natha nantinya akan melengkapi deretan rumah ibadah di sekitar alun-alun, yang mencerminkan keberagaman agama di Indonesia.
Baca Juga: Tarik Pembeli, Peternak Sapi di Sukoreno Kulon Progo Siapkan SPG untuk Pemasaran Hewan Kurban
Selain sebagai sarana ibadah, kawasan ini juga diproyeksikan menjadi destinasi wisata religi.
Damar juga mengingatkan pentingnya menjaga proses pembangunan agar tetap memperhatikan estetika lingkungan serta keharmonisan dengan masyarakat sekitar. "Ini bukan hanya tempat ibadah, tapi simbol kebersamaan kita," bebernya. (pra)