KEBUMEN - Nelayan di Kecamatan Ayah, Kebumen menunggu janji pemerintah daerah dan DPRD untuk perluasan area pendaratan perahu atau dermaga Pantai Lampon. Para nelayan menanti komitmen tersebut agar dapat segera terealisasi. Mereka pun berharap janji yang disampaikan bukan hanya sekadar wacana, tetapi dapat diwujudkan dalam bentuk pembangunan konkret.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kebumen Lusimin menyampaikan, perluasan area pendaratan perahu di Pantai Lampon memang menjadi kebutuhan mendesak bagi nelayan yang saban hari pergi melaut.
Keberadaan tempat perahu yang representatif ini diharapkan dapat menunjang aktivitas nelayan dalam menghidupi ekonomi keluarga.
Baca Juga: Idul Adha Semakin Dekat, Pemkab Kulon Progo Minta Pembagian Daging Kurban Dikemas Tanpa Plastik
“Waktu itu sudah dijanjikan wakil bupati, ketua DPRD dan pimpinan komisi. Kami tinggal tunggu realisasinya mau kapan,” ungkap dia kepada Radar Jogja, Selasa (5/5).
Lusimin menerangkan, kondisi area parkir dan pendaratan perahu nelayan di Pantai Lampon sudah tidak lagi memadai. Kapasitas yang terbatas membuat banyak perahu nelayan harus rela antre untuk bersandar.
Dampaknya sebagian nelayan terpaksa berangkat melaut dari pantai lain, seperti Pantai Menganti, Pedalen hingga Logending. Kondisi ini dinilai sangat mengganggu aktivitas nelayan dalam mencari ikan karena kurang efektif dan efisien.
“Sekarang kapasitas dermaga paling muat 25 perahu. Kalau ada perluasan, 200 perahu cukup,” katanya.
Belum lama, HSNI bersama rukun nelayan sempat mengadu ke DPRD. Mereka datang untuk meminta solusi atas persoalan sempitnya area pendaratan perahu di Pantai Lampon. Keluh kesah nelayan kemudian direspon positif ketua dewan bersama unsur pimpinan komisi. DPRD juga memastikan bakal mengupayakan melalui intervensi anggaran.
Namun demikian, kebijakan anggaran ini tidak dapat dilakukan mendadak karena APBD 2026 sudah berjalan. Di samping itu, pembiayaan proyek pembangunan dermaga juga memerlukan kajian dan anggaran cukup besar.
Baca Juga: Suasana Latihan Menyenangkan, PSS Sleman Fokus Pemulihan jelang Final
Jika dihitung nilainya hingga mencapai lebih dari Rp 10 miliar. Hal paling logis kemudian akan dilakukan pembahasan pada perubahan APBD tahun 2026. “Infonya masih proses DED (dokumen perencanaan). Apapun itu tetap kami tunggu,” ucap Lusimin.
Ketua Rukun Nelayan Desa Pasir Sarikin menambahkan, perluasan area pendaratan perahu selama ini cukup dinanti para nelayan. Menurutnya, selain lokasi strategis titik tersebut cukup menguntungkan bagi nelayan karena terhalang gugusan bukit.
Sehingga ketika mulai masuk musim angin timur, nelayan tetap dapat melaut tanpa khawatir perahu terbalik akibat tergulung ombak. “Letak geografisnya bagus. Ketambahan gundukan bukit membantu banget buat pecah angin,” katanya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo