Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wisuda Berbalut Duka, Lusi Kristiana Raih Sarjana dari Unimma Magelang Diwakili Keluarga; Skripsi Tuntas, Mimpi Nyaris Dirayakan 

Naila Nihayah • Jumat, 1 Mei 2026 | 20:43 WIB
PENUH HARU: Keluarga Lusi Kristiana hadir untuk menerima ijazah karena telah dinyatakan lulus. Dok: Humas Unimma
PENUH HARU: Keluarga Lusi Kristiana hadir untuk menerima ijazah karena telah dinyatakan lulus. Dok: Humas Unimma

 

 

MAGELANG - Suasana haru menyelimuti prosesi wisuda Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma), Kamis (30/4).

Di tengah deretan toga dan senyum para lulusan, ada keluarga yang mendekap erat foto sosok perempuan bernama Lusi Kristiana, 46. Lusi meninggal dunia, tanpa sempat merayakan kelulusannya.

Lusi Kristiana, 46, wisudawati Program Studi Pendidikan Guru PAUD, FKIP Unimma, telah berpulang tiga bulan sebelum hari kelulusannya atau 30 Januari.

Ijazah yang seharusnya ia terima, diserahkan kepada keluarga.

Baca Juga: Laga Pamungkas PSS Sleman VS PSIS Semarang, BCS  dan Slemania Ingatkan Seluruh Anggotanya agar Tetap Kondusif 

Di panggung kehormatan, kakak iparnya, Faidah Aryati berdiri menggenggam pigura foto Lusi. Ida juga turut menerima ijazah mendiang sang adik. 

Meski tak bisa membendung kesedihan, Ida tetap tegar menerimanya.

Selama 23 tahun, Lusi mengabdikan diri sebagai guru TK IT Pelita Hati di Muntilan. 

Di sela rutinitas mengajar, ia kembali menempuh pendidikan tinggi demi cita-cita lama, yakni meraih gelar sarjana pendidikan anak usia dini.
"Adik saya itu tidak pernah mengeluh sakit.

Bahkan hari Kamis, 29 Januari, dia masih mengajar seperti biasa," tutur Ida saat dihubungi, Jumat (1/5).

Hari itu, Lusi menjalani aktivitas penuh. Pagi mengajar, sore melanjutkan kuliah untuk menyelesaikan skripsi.

 Keesokan harinya, Jumat pagi, Lusi mulai mengeluhkan kondisi tubuhnya. Perut terasa tidak nyaman disertai mual.

Baca Juga: Pilih Swasta karena Ingin Pendidikan Karakter, Dindikpora Kota Jogja Catat 25 Persen Kuota SD Negeri Lowong

Ida lantas membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. "Dari hasil rontgen sampai pemeriksaan, tidak ditemukan penyakit serius," kata Ida.

Namun takdir berkata lain. Di tengah perawatan, Lusi mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu dini hari. 

Dokter menyebut penyebabnya berkaitan dengan gangguan asam lambung. Kepergiannya dinilai begitu cepat, tanpa tanda sakit berat sebelumnya.

Beberapa hari setelah kepergian Lusi, keluarga menerima fakta yang mengharukan. Skripsi yang ia perjuangkan telah selesai tepat pada hari terakhir ia beraktivitas.

Seorang teman kuliahnya datang membawa berkas lengkap hasil skripsi itu. Dari situlah keluarga mengetahui, Lusi telah menuntaskan tahap akhir studinya.

"Dia pernah bilang, kalau skripsinya selesai, ingin mengajak makan teman-teman dan keluarga," sebutnya.

Prosesi wisuda yang biasanya dipenuhi kebahagiaan, berubah menjadi ruang refleksi. Dari total 310 wisudawan, nama Lusi tetap dipanggil.

Bedanya, ia hadir dalam bingkai foto.

Bagi Ida, berdiri di panggung wisuda bukan sekadar formalitas. Ia sempat mengenakan toga, berbaris bersama wisudawan lain, sebelum akhirnya diminta maju membawa foto Lusi. 

Momen penyerahan ijazah menjadi titik paling emosional.

"Rasanya campur aduk. Bahagia karena cita-citanya tercapai, tapi sedih karena dia tidak ada," ucapnya dengan nada bergetar.

Rektor Unimma Lilik Andriyani secara langsung menyerahkan ijazah kepada keluarga. 

Baca Juga: Forda II DIY 2026 Siap Digelar, Pendaftaran By Number  18-22 Mei  

Dalam sambutannya, dia menyampaikan belasungkawa mendalam sekaligus penghormatan atas perjuangan almarhumah.

Kehadiran keluarga sejak awal acara menjadi simbol bahwa perjuangan Lusi tidak berakhir sia-sia. 

Kampus pun memaknai momen itu sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi akademik yang telah ia tempuh. (laz)

Editor : Herpri Kartun
#Guru PAUD #Unimma magelang #wisuda