MUNGKID - Serangan hama kera di wilayah Kabupaten Magelang semakin meluas dan terjadi secara masif dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut tidak hanya meresahkan petani, tetapi juga mulai mengganggu stabilitas produksi pertanian di sejumlah kawasan lereng pegunungan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpangan) Kabupaten Magelang Romza Ernawan menyebut, serangan kera kini terjadi hampir merata di wilayah-wilayah pegunungan. Mulai dari lereng Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro, Telomoyo, hingga kawasan pegunungan Menoreh.
Menurut Romza, peningkatan intensitas serangan kera tidak terjadi tanpa sebab. Perubahan kondisi lingkungan di habitat asli satwa tersebut menjadi faktor utama yang mendorong kera turun ke lahan pertanian dan permukiman warga.
Baca Juga: Overstay, WNA Jerman Pengamen 'Punk' Diringkus di Gubuk Semipermanen di Kawasan Pantai Parangtritis
Dia menjelaskan, berkurangnya ketersediaan sumber pakan alami di kawasan hutan dan perbukitan membuat kera kesulitan bertahan hidup di habitatnya. Situasi diperparah dengan kondisi musim kemarau yang menyebabkan sumber air semakin terbatas. "Ketika di atas sudah tidak tersedia cukup makanan dan air, mereka akan turun ke bawah untuk bertahan hidup. Di situlah konflik dengan manusia mulai terjadi," ujarnya, Selasa (28/4).
Akibatnya, lanjut dia, lahan pertanian warga yang berada di kawasan lereng menjadi sasaran empuk. Tanaman hortikultura hingga palawija dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan kawanan kera yang datang secara berkelompok.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, berbagai upaya penanganan sebenarnya telah dilakukan, termasuk penangkapan kera yang dianggap meresahkan. Namun, langkah ini dinilai belum mampu menjadi solusi permanen.
Romza menegaskan, penangkapan hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan. "Penangkapan itu jangka pendek dan tidak efektif. Selama sumber masalahnya tidak diselesaikan, kejadian ini akan terus berulang," katanya.
Selain itu, lanjut dia, relokasi satwa liar juga memiliki keterbatasan, baik dari sisi teknis maupun keberlanjutan ekosistem. Jika habitat baru tidak mendukung, kera berpotensi kembali ke wilayah semula atau berpindah ke area lain yang juga berisiko menimbulkan konflik baru.
Romza mengatakan, pemkab kini mulai mengarahkan penanganan pada pendekatan jangka panjang yang berbasis pemulihan habitat. Satu langkah yang didorong adalah gerakan penanaman pohon buah di kawasan hutan dan perbukitan.
Upaya ini bertujuan menyediakan kembali sumber pakan alami bagi kera di habitatnya, sehingga mereka tidak lagi bergantung pada lahan pertanian warga. "Ini perlu kerja sama semua pihak, terutama warga," paparnya. Romza berharap, gerakan ini tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi juga komunitas lokal, kelompok tani, hingga relawan lingkungan untuk melakukan penanaman secara masif dan berkelanjutan. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo