Sejak sore, warga dari berbagai daerah mulai berdatangan dan memenuhi area sekitar Gerbang Kalpataru. Antusiasme terlihat dari keterlibatan 20 desa di sekitar Borobudur yang turut ambil bagian dalam kirab.
Bahkan, warga membawa berbagai pusaka desa, mengenakan busana tradisional, serta menyajikan tumpeng lanang dan tumpeng wadon sebagai simbol rasa syukur dan keseimbangan.
Prosesi diawali dari Plaza Beringin sekitar pukul 20.00. Iring-iringan bergerak menyusuri rute menuju halaman barat candi, membawa simbol-simbol budaya yang selama ini hidup di tengah masyarakat. Puncak acara ditandai dengan prosesi pradaksina.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperingati Hari Warisan Budaya Dunia serta Hari Keris Nasional. "Ini kirab pusaka nusantara pertama di Borobudur, melibatkan banyak pihak, mulai dari budayawan, seniman, masyarakat desa, hingga pemuka agama," ujarnya.
Fadli menegaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menjadikan Borobudur sebagai living heritage atau warisan budaya yang tidak hanya dilestarikan secara fisik, tetapi juga dihidupkan dalam praktik sosial dan budaya.
"Warisan budaya tidak boleh hanya menjadi monumen mati. Harus hidup, dirasakan, dan memberi manfaat bagi masyarakat," katanya.
Pendekatan ini, kata dia, sejalan dengan arah kebijakan global. Termasuk dorongan UNESCO agar situs warisan dunia tetap relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Selain memperingati Hari Warisan Budaya Dunia, kirab ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Keris Nasional. Keris sendiri telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda sejak lebih dari dua dekade lalu.
Satu momen yang paling mencolok adalah tradisi kembul bojono di akhir acara. Warga bersama-sama menyantap tumpeng hasil bumi yang sebelumnya diarak dalam kirab.
Pemilihan Borobudur sebagai lokasi kirab bukan tanpa alasan. Selain sebagai situs warisan dunia, Borobudur dipandang sebagai simbol puncak peradaban dan kemajuan budaya masa lalu.
Selama ini, kata Fadli, tradisi kirab pusaka lebih identik dengan lingkungan keraton seperti di Jogja atau Solo. Dengan menghadirkannya di Borobudur, pemerintah mencoba memperluas ruang ekspresi budaya ke level yang lebih inklusif dan terbuka.
"Borobudur adalah milik kita bersama, milik dunia. Kegiatan ini menunjukkan bahwa warisan budaya bisa menyatukan," bebernya. (aya)