Beberapa di antaranya adalah Wibowo Hellie dan Argo Ismoyo yang dimakamkan di kawasan Potrobangsan, Kota Magelang. Ada pula Fahrianto di wilayah Kabupaten Magelang, serta sejumlah tokoh lain seperti Rudy Sukarno dan Moch Subroto yang dimakamkan di luar kota, hingga R. Mukahar Ronohadiwidjoyo di Pekalongan.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menyebut, langkah menelusuri makam para pemimpin terdahulu mencerminkan upaya pemkot menjaga kesinambungan nilai dalam kepemimpinan. Dia menilai, pembangunan kota tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang yang telah membentuk karakter Magelang.
"Para pemimpin terdahulu meletakkan dasar penting, bukan hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam cara memimpin masyarakat," ujarnya, Selasa (14/4).
Menurut dia, nilai-nilai seperti kesederhanaan, kedekatan dengan masyarakat, hingga integritas menjadi warisan yang masih relevan hingga saat ini. Dia menambahkan, upaya menghidupkan kembali ingatan terhadap tokoh-tokoh lama bukan sekadar nostalgia.
Baginya, hal itu menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas dan arah pembangunan ke depan. Damar menyebut, menjaga ingatan kolektif merupakan fondasi penting agar pembangunan tidak kehilangan arah.
"Sejarah memberi kita pijakan. Dari sana kita bisa melihat apa yang perlu dilanjutkan dan apa yang harus diperbaiki," katanya.
Denis, cicit dari Argo Ismoyo, mengaku perhatian pemkot menjadi bentuk penghargaan yang berarti bagi keluarga. Meski tidak pernah bertemu langsung dengan sosok leluhurnya, dia mengenal karakter Argo Ismoyo melalui cerita yang diwariskan turun-temurun.
"Pesan tentang beliau sebagai sosok yang sederhana, jujur, dan tegas terus kami dengar dari keluarga," bebernya. (aya)