MAGELANG - Alun-Alun Kota Magelang dipadati ribuan warga yang tumpah ruah menyaksikan puncak perayaan Gerebek Getuk 2026. Tradisi tahunan ini tidak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga simbol rasa syukur yang diwujudkan dengan memperebutkan gunungan getuk dan potensi kelurahan.
Sejak pagi, suasana alun-alun sudah dipenuhi warga dari berbagai penjuru. Mereka berdiri berdesakan di sisi lapangan, menunggu puncak prosesi gerebek getuk, yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-1.120 Kota Magelang.
Kirab budaya bergerak dari kawasan Mantyasih menuju Pendopo Alun-Alun. Lalu, sekitar pukul 09.20, rombongan forkopimda, OPD, maupun bregada dengan kostum tradisional berjalan beriringan, diikuti perwakilan 17 kelurahan yang membawa gunungan berisi hasil bumi dan potensi lokal masing-masing.
Di saat yang sama, doa karaharjan digelar di Masjid Agung Kauman, menandai dimensi spiritual yang menyertai perayaan budaya itu. Kerumunan mencapai puncaknya saat dua gunungan getuk, yakni jaler (laki-laki) dan estri (perempuan) dibawa ke tengah alun-alun.
Kedua gunungan itu memiliki tinggi sekitar tiga meter dengan diameter 2,5 meter, berisi ratusan kilogram getuk yang disusun menjulang. Begitu aba-aba diberikan oleh Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, warga langsung menyerbu gunungan.
Dalam hitungan menit, getuk yang semula tersusun rapi itu ludes diperebutkan. Sorak sorai, tawa, dan riuh teriakan warga menyatu dalam momen tersebut. Sebagian warga bahkan rela berdesakan demi mendapatkan getuk maupun potensi kelurahan.
Panitia Gerebek Getuk Tri Setyo Nugroho menjelaskan, dua gunungan itu merupakan simbol rasa syukur masyarakat atas perjalanan panjang Kota Magelang. "Ini ibarat kembul bujono, makan bersama sebagai wujud syukur," ujarnya usai kegiatan, Minggu (12/4).
Baca Juga: Pesan Wali Kota Magelang untuk Tenaga Pendidik: Cetak Generasi Pintar dan Berkarakter
Total getuk yang digunakan mencapai sekitar 300 kg dengan jumlah sekitar 1.120 buah, menyesuaikan usia Kota Magelang. Menurutnya, getuk dipilih bukan tanpa alasan. Selain sebagai makanan tradisional, getuk juga merepresentasikan nilai kesederhanaan dan kekuatan ekonomi rakyat.
Selain dua gunungan utama, lanjut dia, 17 kelurahan juga menghadirkan gunungan masing-masing yang menampilkan potensi lokal. Mulai dari hasil pertanian hingga produk ekonomi kreatif.
Sebelum prosesi puncak, panggung budaya di alun-alun menampilkan sendratari kolosal bertajuk Babar Mahardika. Pertunjukan ini melibatkan sekitar 250 penari dan puluhan perawit.
Sendratari mengisahkan Magelang pada abad ke-9, saat wilayah ini menjadi titik persinggahan penting jalur ritual dari Jawa Timur menuju Dieng. Interaksi yang terjadi saat itu mendorong perkembangan ekonomi, perdagangan, dan pertanian.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Nurwiyono Slamet Nugroho menyebut, pertunjukan ini menjadi bagian penting dalam memperkuat narasi sejarah lokal kepada warga. Penyelenggaraan Gerebek Getuk tahun ini juga mengalami sejumlah penyesuaian, terutama dalam hal efisiensi waktu dan rute kirab.
Baca Juga: Saat WFH Tiap Jumat di Kota Magelang Hanya untuk 30 Persen Pegawai, ASN Harus On-Call
Prosesi yang sebelumnya berlangsung panjang, kata dia, kini dipersingkat tanpa menghilangkan makna utama. Selain itu, rute kirab juga diubah dengan memanfaatkan Pendopo Alun-Alun yang baru.
Wali kota menyebut, perubahan itu sebagai bagian dari upaya menjaga relevansi tradisi tanpa meninggalkan nilai historisnya. "Inovasi tetap perlu, tapi pakem sejarah harus tetap dijaga," ujar Damar. (aya/laz)