MUNGKID - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Bandongan pada Senin (6/4), memicu longsor di Dusun Citran, Ngepanrejo. Material tanah dari tebing setinggi puluhan meter terseret hingga dua kilometer (km) mengikuti aliran Sungai Guntur, merusak lahan pertanian warga dan menyisakan ancaman longsor susulan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Bambang Hermanto menjelaskan, longsor terjadi sekitar pukul 14.00 setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur kawasan tersebut sejak siang hari.
"Hujan berlangsung cukup lama. Kondisi tanah menjadi jenuh air dan akhirnya memicu longsor," ujarnya, Selasa (7/4).
Baca Juga: 25 Tahun Pipa Terpasang Tanpa Berfungsi, Kini Air PDAM Mengalir bagi Warga Jeruken Gunungkidul
Longsor berasal dari tebing dengan tinggi sekitar 30 meter dan lebar mencapai 50 meter. Material tanah yang runtuh tidak hanya menimbun area di sekitar titik longsor, tetapi juga terbawa aliran Sungai Guntur sejauh kurang lebih dua km.
Akibatnya, sejumlah petak sawah di sepanjang aliran sungai terdampak, baik karena tertimbun material maupun terkikis aliran lumpur. "Material terbawa cukup jauh mengikuti aliran sungai, sehingga dampaknya meluas ke lahan pertanian warga di hilir," kata Bambang.
Meski longsor utama telah terjadi, kondisi di lokasi belum sepenuhnya aman. BPBD mencatat adanya retakan tanah dengan lebar 5 hingga 10 sentimeter sepanjang sekitar 20 meter, yang berada hanya dua meter dari mahkota longsoran.
Retakan ini, kata dia, menjadi indikasi kuat potensi longsor susulan, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas sedang hingga tinggi. "Tanah masih bergerak, sehingga sangat berbahaya jika ada aktivitas di sekitar lokasi," terangnya.
Hingga Selasa (7/4), upaya penanganan fisik di lokasi belum dapat dilakukan. Kondisi tanah yang masih labil menjadi kendala utama. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD telah melakukan kaji cepat dan pendataan awal, serta berkoordinasi dengan pemerintah desa dan dinas terkait, termasuk dinas pertanian, untuk menghitung kerugian yang ditimbulkan.
"Penanganan belum bisa dilakukan karena berisiko. Saat ini fokus pada pemantauan dan pendataan," jelas Bambang.
Baca Juga: Bintangku Bintangmu, Ini Ramalan Zodiak untuk Kamis 8 April 2026
Selain curah hujan tinggi, karakteristik tanah di lokasi juga menjadi faktor pemicu longsor. Berdasarkan keterangan warga, area tersebut memiliki banyak sumber mata air yang membuat struktur tanah menjadi lebih gembur dan mudah bergerak.
Kondisi ini diperparah dengan keberadaan lahan pertanian di atas tebing, yang turut meningkatkan beban tanah saat jenuh air. Hingga kini, nilai kerugian akibat bencana tersebut masih dalam proses pendataan. Namun, sektor pertanian dipastikan menjadi yang paling terdampak.
Kepala Desa Ngepanrejo, Nur Hakim menuturkan, dampak paling terasa dirasakan petani setempat. Sejumlah lahan sawah yang sebelumnya hampir memasuki masa panen kini hilang tertimbun longsor.
Baca Juga: KPK Bakal Panggil Ulang Bos Rokok HS M. Suryo sebagai Saksi Dugaan Suap Bea Cukai
Dia menyebut sedikitnya sekitar 10 pemilik lahan terdampak langsung di titik longsor, sementara total warga yang terdampak bisa mencapai sekitar 20 orang jika dihitung hingga area hilir. "Yang di atas itu sawah warga, ada yang sudah mau panen, tapi sekarang padinya sudah tidak kelihatan, tertimbun," paparnya.
Kondisi ini membuat para petani terancam gagal panen. Terutama karena sebagian besar tanaman padi berada dalam fase akhir sebelum panen. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo