MUNGKID - Sebanyak 4.175 bibit kopi arabika dan robusta bakal ditanam di kawasan Borobudur. Bantuan yang diinisiasi Yayasan Move Nusantara dan PT Kura Paes ini diarahkan tidak hanya untuk penghijauan, tetapi juga membangun masa depan petani, khususnya generasi muda.
Perwakilan Yayasan Move Nusantara, Dewi Madayanti menyebut, total bibit yang disalurkan mencapai 4.175 batang. Bibit tersebut terdiri dari 1.025 kopi robusta yang berasal dari Gunung Welirang serta 3.150 kopi arabika dari Gunung Semeru.
Menurutnya, pemilihan asal bibit bukan tanpa makna. Gunung Welirang disebut sebagai simbol spiritual dalam tradisi Jawa, sementara Semeru dikenal sebagai salah satu gunung suci.
"Harapannya, tanah-tanah dari gunung ini dipertemukan di Borobudur," katanya, Senin (6/4).
Tujuannya, kata dia, bukan hanya memberi dampak ekonomi dan lingkungan, tetapi juga menjadi simbol persatuan Nusantara. Bibit-bibit tersebut selanjutnya akan dikelola oleh bersama jaringan Agro Forestry, dengan fokus utama pemberdayaan petani milenial di wilayah Borobudur dan lereng Bukit Menoreh.
Perwakilan penerima bibit kopi, Gus Farid menjelaskan, sebagian besar bibit akan dibagikan kepada petani muda binaan, termasuk di Desa Ngadiharjo.
Baca Juga: BPS Gunungkidul Bakal Rekrut Ratusan Petugas Sensus 2026, Honor Dijanjikan di Atas UMK
'Ini akan kami distribusikan ke petani milenial agar mereka punya sumber penghidupan jangka panjang," ujar pemilik Padepokan Diponegaran itu.
Harapannya, lanjut dia, dari kopi mereka bisa menyekolahkan anak, membangun rumah, hingga meningkatkan kesejahteraan keluarga. Selain itu, sebagian bibit juga akan dibagikan kepada masyarakat sekitar padepokan sebagai bentuk keterlibatan langsung warga dalam program tersebut.
Gus Farid menuturkan, pemilihan komoditas kopi dinilai strategis karena memiliki daya tahan tinggi dibanding tanaman lain. Sekali ditanam, pohon kopi dapat bertahan bertahun-tahun dan terus produktif dengan perawatan yang tepat.
Tidak hanya itu, para petani milenial juga telah menyiapkan hilirisasi produk. Selain kopi murni khas Jawa, mereka berencana mengembangkan produk turunan berbasis kopi yang ditargetkan menembus pasar internasional, termasuk Timur Tengah.
Tidak hanya berorientasi ekonomi, dia menilai, program ini juga membawa pendekatan kultural dan spiritual. Bibit dari berbagai gunung dianggap sebagai simbol energi yang dipersatukan di kawasan Borobudur.
Baca Juga: Ditangkap, Tiga Pemuda Nekat Begal Pasutri di JJLS Kebumen
Gus Farid menyebut, konsep itu sebagai bentuk keseimbangan antara nilai-nilai alam dan kehidupan manusia. "Ada nilai sinergi antara kekuatan alam. Kita ambil yang positif dari gunung, lalu dipadukan di Borobudur agar membawa ketenangan, kesejahteraan, dan meredam berbagai persoalan," paparnya.
Dia berharap, gerakan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi warga, tetapi juga menciptakan harmoni sosial yang lebih luas. (aya)
Editor : Heru Pratomo