Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengunjungi Sentra Sawangan Unggulan di Desa Tanjunganom, Banyuurip, Purworejo, Tak Sekadar demi Uang tapi Jaga Tradisi

Muhammad Hafied • Sabtu, 4 April 2026 | 23:45 WIB

 

KREASI: Warga Desa Tanjunganom, Kecamatan Banyuurip, Purworejo menunjukkan hasil produksi sawangan burung kualitas super.
KREASI: Warga Desa Tanjunganom, Kecamatan Banyuurip, Purworejo menunjukkan hasil produksi sawangan burung kualitas super.

 



 

 

Siang itu cuaca di Desa Tanjunganom cukup cerah. Terik matahari yang menyinari tak begitu mengganggu karena sedikit terobati dengan semilir angin. Suasana desa juga terasa sepi, tak banyak warga berlalu-lalang.

Tapi di balik kesunyian itu, warga sebenarnya sedang sibuk memproduksi sawangan unggulan. Di dalam rumah, tangan terampil warga membetuk sawangan atau peluit khusus burung dara. Tanpa suara bising dengan cekatan warga mencetak bentuk sawangan berbahan sintesis khusus.

Ya, sudah sejak lama Desa Tanjunganom dikenal sebagai sentra penghasil sawangan unggulan. Kerajinan tradisional ini telah menjadi denyut nadi kehidupan di desa tersebut. Meski jumlah perajin mulai berkurang, pemadangan produksi sawangan masih cukup mudah dijumpai.

Baca Juga: DPRD DIY Kunjungi Andi Bayou Museum, Bahas Masa Depan 'City of Museum' di Yogyakarta dengan Raperda Tata Kelola Museum yang Edukatif

"Di sini ada 630 KK (Kepala Keluarga). Asal asli orang desa sini pasti bisa buat sawangan," ungkap Sekretaris Desa Tanjunganom Pawit Rahman kepada Radar Jogja, Jumat (3/4).

Bagi warga Desa Tanjunganom, membuat sawangan merupakan tradisi yang sampai sekarang masih tetap eksis. Dari anak muda hingga orang tua, keterampilan produksi sawangan ibarat sudah mendarah daging. Di balik setiap sawangan warga menganggap ada nilai kebersamaan dan identitas budaya. "Mulai buat sudah dari zaman mbah-mbah dulu. Jadi bukan cuma soal uang, lebih tepatnya ada tradisi yang harus dijaga," katanya.

Pawit mengungkapkan, meski terlihat sederhana, sawangan faktanya memiliki nilai ekonomi cukup berarti bagi warga. Kebutuhan hidup warga selama ini terbantu dari perputaran uang hasil sawangan produksi rumahan.

Baca Juga: Pertama Kali Sejak 1894, Potongan Kayu Salib Suci Keluar dari Gereja Santo Ignatius untuk Memohon Berkah dan Lingkungan Asri bagi Magelang

Meski begitu, dia tak menampik perajin sawangan sekarang lambat laun terus berkurang. "Dulu bisa ratusan home industri. Pelan-pelan perajin sepuh menyusut," jelasnya.

Desa Tanjunganom sendiri berada tak jauh dari Jalan Nasional 3. Patokannya hanya butuh waktu sekitar 5 menit jika berkendara dari arah terminal lawas Purworejo. Selain dikenal sebagai penghasil sawangan, desa ini juga kaya dengan potensi pertanian. Tanaman padi tampak tumbuh subur di setiap hamparan area persawahan.

Salah satu perajin sawangan Purwono, 50 mengatakan, produksi sawangan masih menjadi primadona di desanya. Bahkan dia mengaku mampu membiayai kuliah dan sekolah anaknya dari hasil jualan sawangan.

Baca Juga: Terdampak Banjir Lahar Hujan, 39,8 Km Jaringan Air Bersih di Magelang Rusak, Pemulihan Lereng Merapi Pascabanjir Terus Dikebut

 Dia menaruh harapan sawangan khas Desa Tanjunganom tetap memiliki tempat di hari masyarakat. "Jujur saja, kebutuhan hidup saya dan keluarga dari jualan sawangan," katanya.

Dia tidak mengetahui pasti kapan awal mula sawangan pertama diproduksi di Desa Tanjunganom. Namun keterampilan tersebut sudah menjadi tradisi turun-temurun. Jika dihitung saat ini dirinya merupakan keturunan ketiga dari pendahulu. "Satu RT sini mungkin ada 20 perajin. Belum yang lain. Intinya tetap bertahan, walau mulai berkurang jumlahnya," jelas Purwono. (fid/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
#tanjunganom #sawangan #Banyuurip #tradisi #Purworejo