Siang itu cuaca di Desa Tanjunganom cukup cerah. Terik matahari yang menyinari tak begitu mengganggu karena sedikit terobati dengan semilir angin. Suasana desa juga terasa sepi, tak banyak warga berlalu-lalang.
Tapi di balik kesunyian itu, warga sebenarnya sedang sibuk memproduksi sawangan unggulan. Di dalam rumah, tangan terampil warga membetuk sawangan atau peluit khusus burung dara. Tanpa suara bising dengan cekatan warga mencetak bentuk sawangan berbahan sintesis khusus.
Ya, sudah sejak lama Desa Tanjunganom dikenal sebagai sentra penghasil sawangan unggulan. Kerajinan tradisional ini telah menjadi denyut nadi kehidupan di desa tersebut. Meski jumlah perajin mulai berkurang, pemadangan produksi sawangan masih cukup mudah dijumpai.
"Di sini ada 630 KK (Kepala Keluarga). Asal asli orang desa sini pasti bisa buat sawangan," ungkap Sekretaris Desa Tanjunganom Pawit Rahman kepada Radar Jogja, Jumat (3/4).
Bagi warga Desa Tanjunganom, membuat sawangan merupakan tradisi yang sampai sekarang masih tetap eksis. Dari anak muda hingga orang tua, keterampilan produksi sawangan ibarat sudah mendarah daging. Di balik setiap sawangan warga menganggap ada nilai kebersamaan dan identitas budaya. "Mulai buat sudah dari zaman mbah-mbah dulu. Jadi bukan cuma soal uang, lebih tepatnya ada tradisi yang harus dijaga," katanya.
Pawit mengungkapkan, meski terlihat sederhana, sawangan faktanya memiliki nilai ekonomi cukup berarti bagi warga. Kebutuhan hidup warga selama ini terbantu dari perputaran uang hasil sawangan produksi rumahan.
Meski begitu, dia tak menampik perajin sawangan sekarang lambat laun terus berkurang. "Dulu bisa ratusan home industri. Pelan-pelan perajin sepuh menyusut," jelasnya.
Desa Tanjunganom sendiri berada tak jauh dari Jalan Nasional 3. Patokannya hanya butuh waktu sekitar 5 menit jika berkendara dari arah terminal lawas Purworejo. Selain dikenal sebagai penghasil sawangan, desa ini juga kaya dengan potensi pertanian. Tanaman padi tampak tumbuh subur di setiap hamparan area persawahan.
Salah satu perajin sawangan Purwono, 50 mengatakan, produksi sawangan masih menjadi primadona di desanya. Bahkan dia mengaku mampu membiayai kuliah dan sekolah anaknya dari hasil jualan sawangan.
Dia menaruh harapan sawangan khas Desa Tanjunganom tetap memiliki tempat di hari masyarakat. "Jujur saja, kebutuhan hidup saya dan keluarga dari jualan sawangan," katanya.
Dia tidak mengetahui pasti kapan awal mula sawangan pertama diproduksi di Desa Tanjunganom. Namun keterampilan tersebut sudah menjadi tradisi turun-temurun. Jika dihitung saat ini dirinya merupakan keturunan ketiga dari pendahulu. "Satu RT sini mungkin ada 20 perajin. Belum yang lain. Intinya tetap bertahan, walau mulai berkurang jumlahnya," jelas Purwono. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo