MAGELANG - Pemkot Magelang telah menyiapkan sejumlah kegiatan untuk menyemarakkan Hari Jadi ke-1.120. Seluruh kegiatan fokus pada penguatan identitas budaya, peningkatan ekonomi lokal, serta promosi kota melalui event pariwisata dan olahraga. Seperti bazar murah, gerebek getuk, hingga pengajian akbar.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menegaskan, tema Satu Langkah, Satu Harmoni, Menuju Kota Magelang Peduli dan Asri bukan sekadar slogan. Melainkan arah kebijakan yang diterjemahkan dalam berbagai kegiatan lintas sektor.
"Ini bukan hanya perayaan, tapi momentum untuk mendorong partisipasi masyarakat sekaligus memperkuat identitas dan daya saing Kota Magelang," ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (1/4).
Baca Juga: Buntut Keluhan Wisatawan Ditarik Retribusi Dobel saat lewat Parangtritis, Pemkab Gunungkidul Minta Pemprov DIJ Fasilitasi Penyelesaian dengan Bantul
Rangkaian kegiatan dibuka dengan pasar murah dan bazar UMKM pada 11-29 Maret di alun-alun. Kemudian, dilanjutkan dengan malam tasyakuran pada 10 April. Lalu, upacara Hari Jadi ke-1120 Kota Magelang pada 11 April di kantor wali kota.
Selanjutnya, ada Gerebek Getuk yang akan digelar pada 12 April di alun-alun. Tradisi ini tidak sekadar atraksi, tetapi menjadi ruang pertemuan antara sejarah, budaya, dan masyarakat. Prosesi diawali dengan fragmen sejarah Bumi Mantyasih, dilanjutkan kirab budaya dan sendratari kolosal.
Di sisi lain, pemkot juga menyasar sektor ekonomi melalui program Magelang Great Sale (MGS) yang berlangsung selama sebulan penuh, 11 April hingga 11 Mei. Program ini, kata dia, melibatkan pelaku usaha dari berbagai sektor dengan diskon besar dan undian berhadiah.
Baca Juga: Pemkab Bantul akan Terapkan WFH bagi ASN pada Minggu Depan
Skema tersebut, lanjut Damar, dirancang untuk meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus mendongkrak omzet pelaku usaha lokal yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi kota. "Lalu, ada ziarah makam mantan wali Kota Magelang pada 14 April," lontarnya.
Kemudian, ada wayangan Mantyasih di Meteseh serta reresik pasar dan shelter pada 17 April. Adapula reli mobil kuna pada 2-3 Mei di alun-alun dan Taman Kyai Langgeng, kejuaraan nasional (kejurnas) junior wali Kota Magelang cup pada 15-17 Mei di Tennis Indoor Moncer Serius, serta Magelang sparkle di alun-alun dan Mantyasih show pada 23 Mei di Meteseh.
Selain itu, ada gelaran Tidar Borobudur 10K pada 24 Mei yang ditargetkan diikuti sekitar 8.000 peserta di alun-alun. Ajang ini menghadirkan tiga kategori, yakni 10K, 5K, dan 3K fun run, yang dirancang menjangkau berbagai kalangan, dari atlet hingga masyarakat umum.
Baca Juga: Mantan Bupati Ikut Diperiksa, Kasus Korupsi Mini Zoo Kejari Purworejo Periksa 48 Saksi
Event olahraga seperti ini bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga memberikan multiplier effect, mulai dari okupansi hotel, perputaran UMKM, hingga promosi kota secara luas. "Kegiatan ini menjadi upaya nyata untuk menggerakkan ekonomi sekaligus memperkuat posisi Kota Magelang sebagai kota berbasis pariwisata dan olahraga," paparnya.
Lantas, ada bakti sosial berupa donor darah pada 30 April di Gardena Swalayan serta sunatan massal pada 7 Mei di RSUD Tidar dan RSUD Budi Rahayu. Selanjutnya, ada sejumlah lomba hingga kesenian jathilan pada 5-7 Juni.
Kemudian, pemkot juga mengadakan Magelang Tempo Doeloe pada 5-7 Juni di alun-alun. Lalu, ada lomba fotografi dalam kurun waktu April-Juni. Serta puncaknya adalah pengajian akbar di alun-alun pada Agustus.
Penutupan ini, kata Damar, sekaligus menjadi refleksi bahwa pembangunan kota tidak hanya bertumpu pada modernitas. "Tetapi juga pada kemampuan merawat ingatan kolektif dan identitas lokal," paparnya. (aya)