"Yang jelas teman-teman merasa nyaman, bisa berhubungan langsung dengan warga. Kita ingin ASN ini tidak hanya seremonial, tapi benar-benar hadir di tengah warga," ujarnya, Jumat (27/3).
Grengseng menjelaskan, selama ini banyak ASN terpusat di lingkungan kerja formal sehingga ruang interaksi dengan masyarakat menjadi terbatas. Padahal, di lingkungan asalnya, para ASN memiliki peran sosial sebagai tokoh yang dapat menjadi jembatan informasi.
Harapannya, mereka dapat menyerap aspirasi sekaligus menyampaikan informasi pembangunan secara langsung kepada warga. "Bagaimana mereka bisa mendidik, mentransfer informasi kalau waktunya habis di kantor," katanya.
Dia menambahkan, forum Idulfitri menjadi momentum strategis untuk memperkuat komunikasi dua arah. Termasuk menjelaskan kebijakan pemerintah daerah, penggunaan anggaran, hingga program yang sudah dan belum terlaksana.
Selain pendekatan sosial, Grengseng juga tengah memperkuat perencanaan pembangunan melalui penyusunan rencana aksi daerah yang lebih konkret. Dokumen tersebut merupakan turunan dari visi-misi kepala daerah yang telah tertuang dalam rencana strategis (Renstra) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
"Sekarang kita konkretkan, bukan hanya rencana strategis, tapi benar-benar apa yang akan dilakukan. Tiap OPD sudah menyusun, lalu kita kolaborasikan karena pasti ada irisan program," jelas Grengseng.
Dia menegaskan, kehadiran ASN di tengah warga menjadi bagian dari upaya menciptakan kondisi yang kondusif (prakondisi), agar mereka tetap tenang dan mendapatkan informasi yang benar. Khususnya di tengah isu geopolitik. (aya)