MUNGKID - Umat Hindu di Magelang mengadakan upacara Tawur Kesanga, Rabu (18/3/2026). Kegiatan ini ditandai dengan prosesi pembakaran tiga ogoh-ogoh atau simbol bhuta kala. Ritual ini menjadi bagian dalam upaya penyucian alam dan diri sebelum umat Hindu menjalani catur brata penyepian selama 24 jam penuh.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini diawali dengan prosesi mecaru di halaman Pura Wira Bhuana. Prosesi ini merupakan persembahan kepada bhuta kala agar kembali ke asalnya dan tidak mengganggu umat Hindu saat menjalankan tapa brata penyepian.
Anggota Bidang Pendidikan, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Magelang Nyoman Sudarma menjelaskan, Tawur Kesanga merupakan bagian dari rangkaian Nyepi yang diawali dari pawai ogoh-ogoh pada Sabtu (14/3/2026).
"Setelah pawai ogoh-ogoh, hari ini kita pralina atau membakar ogoh-ogohnya," ujar dia usai prosesi.
Dalam ritual tersebut, bhuta kala 'diberi makan' dan dihibur melalui tarian sakral seperti Tari Rejang, sebelum akhirnya 'dikembalikan' ke alamnya melalui pembakaran ogoh-ogoh. Pembakaran ogoh-ogoh menjadi simbol pembersihan dan pelepasan unsur negatif dari kehidupan manusia maupun alam semesta.
"Dalam mecaru itu kita memberikan persembahan agar mereka kembali ke asalnya dan tidak mengganggu saat Nyepi," imbuhnya.
Setelah rangkaian Tawur Kesanga, umat Hindu akan melaksanakan persembahyangan bersama sebelum memasuki Hari Raya Nyepi yang dimulai pada Kamis (19/3/2026) pukul 06.00 dan berlangsung selama 24 jam hingga keesokan harinya.
Selama periode tersebut, umat menjalankan catur brata penyepian, yakni empat pantangan utama. Seperti amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan.
Nyoman menjelaskan, amati geni berarti tidak menyalakan api. Tidak hanya api saja, termasuk juga api yang ada dalam diri manusia, yakni amarah. Dengan kata lain, setiap umat diminta untuk mengendalikan api hawa nafsu.
Kemudian, amati karya atau tidak bekerja. Umat Hindu tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan selama 24 jam agar lebih berkonsentrasi dan instrospeksi diri selama di rumah. Lalu, amati lelungan atau tidak bepergian kemana-mana. Termasuk di dalamnya menghargai waktu dan kesempatan sebaik-baiknya untuk kebaikan.
Terakhir, amati lelanguan atau tidak berhura-hura maupun bersenang-senang. Namun, bagi umat yang mampu, ada pula mona brata atau tidak berbicara. Nyoman menegaskan, pelaksanaan brata ini bersifat personal dan dapat dilakukan di rumah maupun di pura.
Baca Juga: Niat Membayar Zakat untuk Diri Sendiri, Istri, Anak dan Perwakilan Keluarga
"Brata itu untuk diri sendiri. Bisa dilakukan di rumah atau di pura, yang penting adalah pengendalian diri," lontarnya.
Sementara itu, Penasihat PHDI Kabupaten Magelang I Gede Suwarti menjelaskan, inti dari Nyepi bukan sekadar menahan aktivitas fisik, tetapi lebih pada pengendalian hawa nafsu. Api dalam amati geni bukan hanya api secara fisik, melainkan api dalam diri manusia.
"Api dalam amati geni itu bukan hanya api secara fisik, tapi api dalam diri kita. Ini tentang bagaimana kita mengendalikan diri," ungkapnya.
Dia menambahkan, rangkaian Nyepi sebelumnya telah diawali dengan kirab budaya dengan mengarak ogoh-ogoh, lalu Melasti di Tuk Mas Grabag sebagai simbol pembersihan diri. Kemudian dilanjutkan dengan Mecaru untuk menyelaraskan hubungan dengan alam semesta.
"Setelah diri kita bersih, kita rawat alam semesta, lalu kita kembalikan semuanya ke asalnya. Itu makna dari pembakaran ogoh-ogoh," jelasnya.
Menariknya, pelaksanaan Nyepi tahun ini berdekatan dengan momen takbiran umat Muslim. Meski demikian, umat Hindu di Magelang menegaskan tidak ada gangguan dalam menjalankan ibadah. Sebab hal itu dinilai sebagai bagian dari keberagaman Indonesia.
Lebih dari sekadar ritual, lanjut I Gede, Nyepi menjadi momen refleksi mendalam bagi umat Hindu untuk mengevaluasi diri. Selama 24 jam tanpa aktivitas, umat diajak untuk merenung, menilai apa yang telah dilakukan selama setahun, serta merencanakan langkah ke depan.
"Ini waktu untuk introspeksi, apa yang sudah dilakukan dan apa yang harus diperbaiki ke depan," bebernya. (aya)
Editor : Iwa Ikhwanudin