KEBUMEN - Kenaikan harga bukan menjadi penghalang bagi masyarakat Kebumen untuk membeli emas. Hal tersebut terlihat dari ramainya aktivitas jual beli di deretan toko emas di Pasar Tumenggungan, Kebumen.
Salah satu penjual emas Gita Prasetya, 22, mengatakan, daya beli masyarakat sejauh ini terhadap emas masih tetap terjaga. Kenaikan harga emas saat ini tidak begitu memengaruhi minat masyarakat untuk membeli perhiasan. "Tetap ramai, tidak ada perbedaan," ungkapnya kepada Radar Jogja Minggu (8/3).
Gita berharap, kondisi ini dapat terus bertahan, sehingga penjualan perhiasan emas ke depan tetap berjalan baik. Ia mengaku sempat khawatir penjualan logam mulia bakal terganggu di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah (Timteng) belakangan ini. Namun, faktanya sejauh ini emas masih dilirik masyarakat. "Masih stabil, tidak ada tanda-tanda turun derastis gitu," sebutnya.
Ia menyebutkan, terjadi fluktuasi harga emas sejak gopolitik memanas di Timteng. Saat ini harga emas 17 karat dibanderol dengan harga Rp 2.180.000 sampai Rp 2.300.000 per gram. Harga jual tersebut tergantung kulitas barang. Sedangkan harga emas muda atau 8-9 karat harganya Rp 1.200.000 sampai Rp 1.360.000 per gram. "Ada kenaikan Rp 10 ribu. Kami ikut harga dari pusatnya seperti apa," katanya.
Penjual lain, Nur Aisyah, 32, memprediksi, kenaikan harga emas kemungkinan akan terus berlangsung. Selain faktor geopolitik dunia, kondisi ini dipicu adanya momentum Lebaran. Kenaikan harga ini juga dipengaruhi banyaknya permintaan emas dunia. "Bisa naik terus. Soalnya di mana-mana sekarang butuh emas. Apalagi nanti habis Lebaran, uang terkumpul langsung beli emas," jelasnya.
Seorang pembeli Fatmawati, 42, mengatakan, kenaikan harga tak menyurutkan minatnya untuk membeli emas. Ia mengaku membeli perhiasan tidak hanya untuk dipakai. Tetapi juga bentuk investasi jangka panjang. "Naiknya emas masih terjangkau. Sekarang mumpung ada tabungan, saya belikan cincin saja," ujarnya. (fid/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita