Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sampah dan Material Lahar Menumpuk di Sabo Dam Srowol Magelang, BBWS Serayu Opak dan Pemkab Lakukan Pembersihan

Naila Nihayah • Sabtu, 7 Maret 2026 | 13:01 WIB

Sejumlah alat berat diturunkan untuk membersihkan sampah dan material lahar yang menumpuk di Sabo Dam Srowol, Sabtu (7/3/2026).
Sejumlah alat berat diturunkan untuk membersihkan sampah dan material lahar yang menumpuk di Sabo Dam Srowol, Sabtu (7/3/2026).

MUNGKID - Upaya penanganan pascabanjir lahar hujan di kawasan Gunung Merapi terus dilakukan. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak bersama pemkab melakukan pembersihan sampah dan material sedimen yang menumpuk di Sabo Dam PA-C Srowol di aliran Sungai Pabelan, Progowati, Mungkid. 

Upaya ini merupakan langkah darurat menyusul peristiwa banjir lahar hujan di kawasan hulu Gunung Merapi, beberapa waktu lalu. Arus deras dari hulu sungai membawa berbagai material vulkanik serta batang pohon hingga menumpuk di sejumlah sabo dam. 

PPK Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (OP SDA) II BBWS Serayu Opak, Riva Shofiarto mengatakan, pembersihan dilakukan sebagai tindak lanjut dari hasil survei lapangan yang dilakukan bersama sejumlah instansi setelah banjir. "Hari ini langsung kami tindak lanjuti dengan aksi pembersihan material dan sampah di hulu sabo dam," ujar Riva, Sabtu (7/3/2026).

Dia menjelaskan, fokus penanganan saat ini berada di bagian hulu sabo dam yang dipenuhi sedimen dan kayu hasil bawaan arus lahar hujan. "Lokasi ini berada di bagian hilir sistem sabo di Sungai Pabelan, sehingga material dari atas banyak tertahan di sini," imbuhnya.

Riva menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan terdapat empat sabo dam di wilayah tersebut yang terdampak aliran lahar hujan. Tiga di antaranya berada di aliran Sungai Pabelan, sementara satu lainnya berada di Sungai Tlingsing.

Meski terdampak material lahar hujan, secara umum kondisi bangunan sabo dam masih berfungsi sebagaimana mestinya. Riva menyebut, sabo dam memang dirancang untuk menahan sedimen agar material vulkanik tidak langsung terbawa hingga ke wilayah hilir yang lebih padat penduduk.

Namun, lanjut dia, akibat peristiwa banjir lahar hujan tersebut, kapasitas tampungan sedimen di beberapa sabo dam menjadi penuh. Karena itu, dalam jangka menengah BBWS Serayu Opak berencana melakukan normalisasi agar kapasitas tampungan kembali optimal.

Selain sedimen berupa pasir dan batu vulkanik, kata Riva, material yang paling banyak menghambat aliran air di Sabo Dam Srowol adalah batang-batang pohon besar yang terbawa arus dari hulu.

Menurut Riva, kayu-kayu tersebut dapat menyumbat lubang aliran air pada struktur sabo dam yang dikenal sebagai dribble. "Material yang paling menyulitkan justru kayu-kayu besar. Jika masuk ke lubang dribble, itu bisa menghambat aliran air," jelasnya.

Kayu-kayu yang terbawa arus lahar hujan bahkan berukuran cukup besar dan panjang sehingga perlu alat berat untuk mengangkatnya dari area sabo dam.

Sementara itu, volume total material yang terbawa banjir hingga ke hilir masih belum dapat dipastikan karena saat ini tim masih fokus pada penanganan darurat.

Dia menambahkan, Sabo Dam Srowol tidak hanya berfungsi menahan sedimen, tetapi juga menjadi bagian dari sistem irigasi yang menyuplai air ke lahan pertanian di sekitarnya. Di lokasi tersebut terdapat saluran intake irigasi di sisi kanan dan kiri sabo dam.

Namun akibat tertimpa material kayu dan sampah, pintu intake irigasi di lokasi tersebut mengalami kerusakan. "Pintu intake irigasi kanan dan kiri mengalami kerusakan karena tertimpa sampah dan batang pohon. Bagian bawah pintunya rusak," paparnya.

Jika tidak segera ditangani, lanjut dia, kondisi tersebut dikhawatirkan akan mengganggu distribusi air bagi petani di sekitar Sungai Pabelan. Karena itu, BBWS Serayu Opak juga telah berkoordinasi dengan kelompok tani setempat untuk segera melakukan perbaikan pintu intake yang rusak.

Dalam penanganan pascabanjir lahar hujan ini, Sabo Dam Srowol menjadi prioritas utama pembersihan karena tumpukan material kayu di lokasi tersebut cukup banyak serta berada dekat dengan permukiman warga. "Setelah ini rencananya baru dilanjutkan ke Sungai Tlingsing, kemudian ke titik lain seperti Menayu," katanya.

Proses pembersihan melibatkan berbagai unsur, mulai dari BBWS Serayu Opak, Pemkab Magelang, BPBD, hingga relawan. BBWS Serayu Opak mengerahkan satu alat berat jenis long arm untuk membantu mengangkat material kayu dan sedimen dari area sabo dam. Selain itu, sejumlah truk juga disiapkan untuk mengangkut material hasil pembersihan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Magelang David Rudiyanto mengatakan, pemkan mengerahkan lebih dari 100 personel. Terdiri dari petugas BPBD, aparat desa, relawan, personel DPUPR, serta warga setempat.

Selain tenaga manusia, pemkab juga mengerahkan armada pengangkut material. "Dari DPUPR, kita support personel dan armada. Karena kebutuhan dump truck cukup mendadak, kami juga berkoordinasi dengan DLH untuk membantu armada tambahan," bebernya.

Material kayu dan sampah yang berhasil diangkat dari sabo dam selanjutnya akan dibuang di lokasi yang telah disiapkan oleh pemerintah desa setempat. David berharap, proses pembersihan dapat selesai dalam waktu singkat sehingga fungsi sabo dam kembali optimal. (aya)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Gunung Merapi hari ini #banjir lahar dingin #Magelang #Merapi Hari Ini #banjir lahan #penanganan bencana