KEBUMEN - Kementerian Agama (Kemenag) Kebumen telah menetapkan besaran zakat fitrah untuk Tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi. Nilainya cenderung naik menyesuaikan jenis beras yang dipakai untuk zakat.
Kepala Kemenag Kebumen Anif Solikhin menjelaskan, penetapan besaran zakat fitrah telah diambil melalui rapat bersama pemangku kebijakan. Rapat ini melibatkan unsur Kemenag, Dinas Perindag KUKM, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta NU dan Muhammadiyah.
Penentuan nilai zakat fitrah sendiri dilakukan berdasar harga beras konsumsi masyarakat. "Besaran nominal disesuaikan dengan jenis beras," jelasnya kepada Radar Jogja Rabu (4/3).
Berdasar hasil keputusan bersama umat muslim di Kebumen diberikan tiga jenis pilihan untuk menunaikan zakat fitrah. Yaitu, beras jenis IR 64 kualitas medium, rajalele dan mentikwangi.
Untuk jenis beras rajalele, lanjutnya, nilainya Rp 45.600 per jiwa. Angka tersebut naik dari tahun lalu yang hanya Rp 40.000. Sedangkan jenis mentikwangi Rp 46.350, naik dari Rp 43.000 pada 2025. Sementara beras IR 64, besaran zakat tahun ini Rp 37.100. “Sebelumnya Rp 35.000 per jiwa,” rincinya.
Anif menjelaskan, setiap muslim setiap tahun wajib menunaikan zakat fitrah sebesar satu sha’ atau empat mud, setara 2,85 kilogram beras. Adapun zakat fitrah dapat ditunaikan sejak awal Ramadan. Menurutnya pembayaran zakat lebih awal memudahkan proses distribusi. Sehingga zakat dapat segera diterima mustahik sebelum Hari Raya Idul Fitri.
"Kami mengimbau umat Islam di Kebumen menyalurkan zakat melalui amil resmi agar tepat sasaran," pesannya.
Terpisah, pedagang beras di Pasar Tumenggungan Salma Asharin mengatakan, harga beras dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan. Sehingga menurutnya wajar jika besaran zakat ikut naik. Kendati begitu, kondisi harga beras mendekati Lebaran terpantau masih stabil. "Tetap ada kenaikan. Misal beras mentikwangi, tadinya sekilo Rp 17.500 sekarang Rp 18.000. Masih wajar," ungkapnya.
Menurutnya, selama ini mayoritas masyarakat lebih memilih berzakat dengan kualitas beras non-premium, seperti jenis IR. Namun tak jarang ada juga yang memilih beras kualitas super. Saat ini sebagian pedagang juga telah menambah stok beras guna antisipasi banyaknya permintaan untuk kebutuhan zakat. "Rata-rata beli yang kualitas biasa. Sekarang belum ramai banget, sebentar lagi biasanya ramai," katanya. (fid/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita