Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cerita Para Lansia Nyantri di Pondok Sepuh Payaman Magelang: Mencari Tenang, Menambah Bekal Akhirat

Naila Nihayah • Selasa, 24 Februari 2026 | 18:57 WIB

KHUSYUK: Santri lansia di Pondok Sepuh, kompleks Masjid Agung Payaman tampak fokus membaca Al-Qur'an sembari menunggu azan Zuhur, Selasa (24/2/2026).
KHUSYUK: Santri lansia di Pondok Sepuh, kompleks Masjid Agung Payaman tampak fokus membaca Al-Qur'an sembari menunggu azan Zuhur, Selasa (24/2/2026).

MUNGKID - Suara lantunan ayat suci bersahut-sahutan memenuhi Masjid Agung Payaman, Kabupaten Magelang.

Ratusan lansia duduk bersila, menunduk sembari membaca Alquran di sebuah meja kecil. 

Meski usianya tak lagi muda, semangat untuk mengaji dan mencari pahala patut diacungi jempol.

Pemandangan ini menjadi potret khas setiap Ramadan di Pondok Sepuh, kompleks Masjid Agung Payaman.

Ratusan santri sepuh datang dari berbagai penjuru daerah untuk nyantri di sana. Sebagian dari mereka hanya tinggal sementara, tapi ada juga yang sudah bermukim atau nyantri bertahun-tahun di sana.

Di antara para santri sepuh itu, Fadhilah, 75 warga Temanggung tampak khusyuk meniti setiap huruf di mushaf.

Ini adalah kali keduanya mengikuti program pesantren Ramadan di Pondok Sepuh Payaman.

"Rasanya senang, adem. Ketemu teman seusia, kegiatannya juga banyak," ujarnya, Selasa (24/2/2026).

"Di sini ilmunya sangat bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Rugi kalau tidak ikut," katanya.

Endang bahkan berencana tidak hanya mengikuti program Ramadan, tetapi juga menetap dalam jangka panjang.

Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan belajar dan beribadah. "Kalau kita meninggal, kan butuh bekal," sambungnya.

Pengasuh Pondok Sepuh Putri Payaman, KH Arif Mafatihul Huda menjelaskan, pesantren ini memang dirancang khusus untuk lansia.

Baca Juga: Orang Tua Perlu Waspada, Kenali 5 Tanda Gagal Ginjal pada Anak

Kelompok yang selama ini jarang menjadi fokus pendidikan pesantren. "Biasanya pesantren itu untuk anak-anak atau remaja. Di sini justru untuk yang sepuh," bebernya.

Programnya terbagi dua, yakni santri mukim tahunan dan santri 'pasan' atau khusus Ramadan.

Untuk Ramadan tahun ini, sekitar 210 santri mengikuti program pasan, sementara sekitar 70 lainnya merupakan santri tetap yang tinggal sepanjang tahun.

KHUSYUK: Santri lansia di Pondok Sepuh, kompleks Masjid Agung Payaman tampak fokus membaca Al-Qur'an sembari menunggu azan Zuhur, Selasa (24/2/2026).
KHUSYUK: Santri lansia di Pondok Sepuh, kompleks Masjid Agung Payaman tampak fokus membaca Al-Qur'an sembari menunggu azan Zuhur, Selasa (24/2/2026).


Mereka datang dari berbagai daerah. Tidak hanya dari Jawa Tengah, tetapi juga dari Kalimantan, Sumatera, hingga Batam. 

Metode pengajaran pun disesuaikan. Para pengajar tidak menggunakan pendekatan kaku, melainkan komunikatif dan penuh humor.

"Kita menghadapi mbah-mbah, jadi harus sabar, komunikatif, dan ringan," ucapnya.

Pondok Sepuh Payaman bukan tempat baru. Pesantren ini berakar dari tradisi panjang sejak 1950, didirikan oleh seorang ulama setempat yang dikenal sebagai Kiai Siraj.

Gagasan awalnya sederhana, yakni menyediakan ruang bagi para lansia yang ingin beribadah dan belajar agama.

Baca Juga: Oknum Brimob Aniaya Siswa MTs Hingga Tewas di Maluku Tenggara Dipecat Polri

Takmir masjid, M Anas menambahkan, konsep ini lahir dari keprihatinan. Lantaran banyak orang tua yang ingin belajar agama, tetapi tidak memiliki tempat.

"Dulu hanya disediakan tempat menginap, lama-lama berkembang jadi pesantren," terangnya.

Kini, Pondok Sepuh memiliki dua kompleks, putra dan putri yang mengapit masjid. Jumlah santri mukim berkisar 70 orang, tetapi saat Ramadan bisa melonjak hingga 200-300 orang.

Bahkan, pada masa tertentu, sebagian santri harus tidur di area masjid karena keterbatasan tempat.

Baca Juga: Jelang Lebaran Stok Kebutuhan Pokok Kulon Progo Aman Harga Relatif Stabil

Kehidupan di pondok berjalan dengan ritme yang disiplin. Aktivitas dimulai sejak pukul 02.00 dini hari untuk tahajud dan tadarus, dilanjutkan kuliah subuh, lalu pengajian rutin hingga menjelang siang.

Selama Ramadan, jadwal menjadi lebih padat. Selain pengajian, santri juga mengikuti semaan Alquran dan kajian tematik yang disampaikan para kiai dan nyai.

Namun, di balik kepadatan itu, suasana tetap terasa hangat. Di sela-sela kegiatan, para santri sepuh saling berbincang, berbagi cerita hidup, atau sekadar duduk bersama menikmati waktu. (aya/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#lansia #Kabupaten Magelang #pondok sepuh #bekal akhirat #Masjid Agung Payaman #nyantri