MUNGKID - Desa Polengan, Srumbung, Kabupaten Magelang mengembangkan model ketahanan pangan berbasis desa melalui kolaborasi BUMDes dan Kelompok Usaha Bersama (KUBE).
Sejumlah sektor usaha dijalankan secara terintegrasi, mulai dari peternakan ayam petelur, pengolahan pupuk organik, hingga pertanian jagung.
Rantai usaha tersebut diharapkan tidak hanya menopang ekonomi warga, tetapi juga menjadi penyuplai kebutuhan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Polengan. Satu sektor yang saat ini berjalan adalah peternakan ayam petelur yang dikelola BUMDes Amrih Mulyo bersama peternak lokal.
Kepala Desa Polengan Widodo menjelaskan, usaha ayam petelur tidak berdiri sendiri. Limbah kotoran ayam dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku pupuk organik yang diproduksi KUBE Merti Rejeki. Pupuk tersebut kemudian dijual ke petani dalam bentuk kemasan.
"Dari ayam petelur, kotorannya kita olah jadi pupuk. Pupuk ini dipakai juga untuk pertanian jagung, dan jagungnya nanti jadi pakan ayam. Jadi saling terkait," ujar Widodo, Senin (2/2).
Jagung menjadi komoditas penting dalam mata rantai usaha tersebut. Selain menopang sektor pertanian warga, hasil panen jagung juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sehingga menekan biaya produksi peternakan ayam.
Baca Juga: Operasi Keselamatan Candi 2026 di Magelang Sasar Ponsel, Knalpot Brong, hingga Helm Tak SNI
Widodo menyebut, gagasan membangun usaha terintegrasi ini berangkat dari kebutuhan desa dan kemampuan warga. Usaha dipilih yang relatif mudah dijalankan, tidak membutuhkan teknologi tinggi, serta dapat dilakukan oleh sebagian besar warga.
Saat ini, lebih dari seribu ekor ayam petelur dikelola dalam dua kandang oleh peternak warga Polengan. Jumlah tersebut direncanakan terus bertambah seiring perputaran modal dan keuntungan usaha.
Tidak berhenti di situ, Pemdes Polengan juga menyiapkan pengembangan sektor usaha baru pada 2026, yakni peternakan kambing berbasis penggemukan dan penjualan daging konsumsi.
"Nanti kambing kita beli yang masih kurus, kita gemukkan, lalu kita potong dan jual dagingnya," kata Widodo.
Sementara itu, Ketua BUMDes Amrih Mulyo, Riyadi mengakui, pengelolaan tiga sektor usaha, seperti peternakan, pertanian, dan pupuk organik masih menghadapi tantangan. Terutama terkait sumber daya manusia dan kesadaran warga.
Riyadi menjelaskan, skema kerja sama antara BUMDes dan peternak ayam dilakukan melalui penyediaan bantuan awal berupa ayam dan pakan. Selama masa awal produksi, pakan ditanggung BUMDes.
"Setelah ayam mulai bertelur, biaya pakan diambil dari hasil penjualan telur. Untuk pembagian hasil bersih, 70 persen untuk peternak dan 30 persen untuk BUMDes," tegasnya.
Hasil dari berbagai sektor usaha tersebut tidak hanya dipasarkan di lingkungan Desa Polengan. BUMDes juga menyalurkan produk ke warga, satu di antaranya melalui KDMP di Polengan.
"Kita manfaatkan potensi yang ada. Hasil dari BUMDes kita suplai ke koperasi, dan pemasarannya ditangani koperasi," sambungnya. (aya)
Editor : Heru Pratomo