KEBUMEN - Sudah dua bulan terakhir nelayan di pesisir selatan Kebumen libur melaut. Mereka terpaksa mengurungkan niat pergi mencari ikan lantaran kondisi cuaca belakangan ini sedang tidak bersahabat.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kebumen Lusimin mengatakan, para nelayan enggan mengambil risiko di tengah cuaca ekstrem.
Gelombang tinggi disertai angin kecang meurutnya menjadi ancaman tersendiri, sehingga nelayan memilih tetap bertahan di rumah.
"Dari awal Desember lalu sampai sekarang. Mayoritas nelayan itu libur total," ungakapnya kepada Radar Jogja, Selasa (27/1).
Selain berisiko membahayakan keselamatan, hasil tangkapan ikan juga tak menentu. Kondisi ini pun memaksa nelayan beralih profesi demi mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.
Dia menyebut, sebagian nelayan kini memilih untuk berternak dan bertani sembari menunggu cuaca laut selatan berangsur normal.
Lusimin mengatakan, alih profesi nelayan dilakukan demi menyambung hidup karena tidak ada pemasukan dari hasil laut. Apalagi sebentar lagi akan menghadapi bulan suci ramadan dan lebaran, otomatis kebutuhan keluarga semakin meningkat.
"Sekarang, bagi punya sapi, ya fokus ke hewan ternak. Ada juga yang garap lahan," ucapnya.
Lusimin mengaku belum mengetahui pasti sampai kapan kondisi ini akan terus dirasakan nelayan. Dia hanya berharap aktivitas nelayan dapat segera pulih, mengingat banyak kebutuhan yang harus ditanggung para nelayan.
"Doa kami di Februari cuaca aman. Puasa sampai lebaran nelayan bisa pegang uang," katanya.
Salah satu nelayan di Pantai Pasir, Budiawan, 42, mengaku tak bisa berbuat banyak ketika musim angin kencang. Perahu yang setiap hari dia gunakan melaut saat ini hanya terparkir di tepi pantai.
Di tengah masa libur melaut, nelayan memanfaatkan hari luang tersebut untuk memperbaiki alat tangkap ikan. "Pas libur paling buat benerin jaring. Persiapan sebelum berangkat lagi," katanya.
Dia mengungkapkan, para nelayan tak ingin bertaruh nyawa ditengah cuaca ekstrem. Tak sedikit nelayan yang kemudian memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. "Mau bagaimana lagi, ya ngaggur. Paling cari penghasilan diluar nelayan. Yang penting obah (gerak)," ujarnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo