Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Muhamad Burhanudin, Warga Magelang yang Mengangkat Martabat Petani lewat Mastanibibit; Sabet Juara 1 Ajang Pemuda Pelopor Desa Nasional

Naila Nihayah • Senin, 19 Januari 2026 | 20:14 WIB

 

 

KREATIF: Burhan mendapat juara 1 pada ajang Pemuda Pelopor Desa Nasional berkat inovasinya, yakni Mastanibibit.
KREATIF: Burhan mendapat juara 1 pada ajang Pemuda Pelopor Desa Nasional berkat inovasinya, yakni Mastanibibit.

MAGELANG - Desa Kebonrejo, Salaman merupakan sentra bibit pohon di Kabupaten Magelang. Hanya saja, banyak petani yang pasrah dengan harga yang diberikan tengkulak.

Kondisi ini membuat pemuda setempat, Muhamad Burhanudin berani menghadirkan inovasi baru melalui platform digital.

Bertahun-tahun, para petani hanya bisa pasrah. Bibit tanaman buah yang mereka rawat berbulan-bulan kerap dihargai rendah, sementara akses pasar nyaris tertutup. Dari keresahan itulah Burhan melangkah.

Pemuda desa yang kini mengharumkan nama Kebonrejo di tingkat nasional itu membuktikan bahwa inovasi tidak harus lahir dari kota besar.

Berkat gagasannya membangun platform digital bernama Mastanibibit, Burhan dinobatkan sebagai Juara 1 Pemuda Pelopor Desa Nasional. Penghargaan itu diserahkan pada puncak peringatan Hari Desa 2026 di Boyolali, beberapa waktu lalu.

Burhan menceritakan, perubahan dimulai pada 2014. Saat itu, hampir semua petani di desanya menjual bibit melalui jalur konvensional dan tengkulak menjadi penentu harga. "Harganya nggak tinggi, karena petani manut sama tengkulak," ujarnya kepada Radar Jogja, Senin (19/1).

Berbekal pengalaman belajar penjualan online, Burhan mulai bereksperimen memasarkan bibit lewat Facebook dan sejumlah halaman komunitas. Pelan tapi pasti, respons pasar mulai tumbuh.

Pesanan datang dari luar daerah. Kondisi itu praktis membuka mata para petani bahwa pasar ternyata jauh lebih luas dari yang mereka bayangkan.

Momentum besar datang pada 2018, ketika Burhan menempuh pendidikan S1 dan mengikuti Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia dari Kemdiktisaintek.

Ia mengangkat persoalan bibit tanaman buah, isu yang sangat dekat dengan desanya. Dari sanalah lahir sebuah nama dan identitas, yakni Mastanibibit.

Mastanibibit bukan sekadar toko online. Burhan merancangnya sebagai platform yang menghimpun petani bibit.

Kini, sedikitnya 45 petani menjadi mitra aktif. Melalui situsnya, bibit tanaman buah dari Kebonrejo dan sekitarnya bisa menjangkau pembeli dari berbagai penjuru Indonesia.

Petani tidak lagi bergantung pada tengkulak, melainkan langsung terhubung dengan konsumen.

"Ini inovasi untuk membantu petani bibit agar bisa menjual produknya secara mudah dan luas lewat teknologi digital," kata Burhan.

Tak hanya menjual bibit dan pupuk, Mastanibibit juga melibatkan petani dalam berbagai jasa, mulai dari pendampingan penanaman hingga proyek perkebunan skala besar.

Ketika Mastanibibit menangani proyek kebun durian di Kalimantan Timur, seluruh bibit berasal dari petani mitra, bahkan tenaga pendamping diambil langsung dari desa.

Burhan menyebut, dampak paling terasa adalah kenaikan harga jual. Perbedaan harga antara jalur tengkulak dan platform digital Mastanibibit mencapai 30 hingga 40 persen.

"Kalau lewat tengkulak dibeli Rp 12 ribu, di kami bisa Rp 20 ribu. Bibit tinggi 1,5 meter yang dulu dihargai Rp 60 ribu-Rp 70 ribu, di Mastanibibit bisa Rp 90 ribu sampai Rp 110 ribu," jelasnya.

Namun, tidak semua bibit bisa masuk ke Mastanibibit. Burhan menerapkan standardisasi ketat, mengacu pada ketentuan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB). Bibit harus hasil okulasi, valid secara varietas, sehat, dan memenuhi kriteria teknis seperti tinggi tanaman dan posisi okulasi.

"Kami sortir betul. Ada tim yang ngecek jenis, kesuburan, jumlah helai daun, sampai ketinggian," tambahnya.

Kerja sama dengan petani pun berbasis MoU, bukan keanggotaan. Mastanibibit bisa membiayai hingga 50 persen produksi bibit petani, bahkan 100 persen jika kebutuhan pasar meningkat.

Bibit dari Kebonrejo kini telah dikirim hampir ke seluruh Indonesia, mulai dari Aceh, Manado, hingga Timika, Papua. Satu-satunya wilayah yang belum terjangkau hanya Natuna, karena keterbatasan kargo.

Proyek terjauh yang pernah ditangani adalah kebun durian Musang King dan Duri Hitam di Samarinda, Kalimantan Timur.

Jenis ini, kata dia, dipilih karena stabilitas harga dan kualitas rasa yang masih sulit ditandingi durian lokal. Sementara produksi dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan.

Jalan Burhan pun tak selalu mulus. Tantangan terbesar justru datang dari dalam desa, satu di antaranya petani yang gagap teknologi (gaptek). Sebab mayoritas berusia di atas 40 tahun dengan latar pendidikan terbatas.

"Mereka pesimistis di awal. Website sebulan belum laku, kepercayaan belum ada, tampilannya juga masih sederhana karena saya kerjakan sendiri," kenangnya.

Namun, perlahan persepsi berubah. Petani mulai melihat dampak nyata. Seperti pesanan meningkat, varietas tanaman bertambah, hingga produktivitas naik. Dari durian Musang King dan Duri Hitam, kini berkembang ke Tupai King, alpukat berbagai varietas, kelengkeng, hingga jambu.

Saat mengikuti penilaian Pemuda Pelopor Desa Nasional, Burhan mengaku tak menaruh ekspektasi tinggi. Persaingan ketat, peserta datang dari seluruh provinsi. Pertanyaan juri pun berat dan mendalam. Namun justru di situlah kekuatan Mastanibibit dinilai.

Bukan semata soal website atau omzet, melainkan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan. "Banyak yang terlibat. Petani, tenaga pengemasan, pengiriman, produsen pupuk, semua dari desa," lontarnya.

Ke depan Burhan tak ingin berhenti. Mastanibibit akan bernaung di bawah perusahaan baru bernama Raja Benih, dengan konsep lebih profesional. Kantor, workshop pertanian, edukasi calon pekebun, hingga pendampingan dari nol.

Dia juga berencana menghimpun hasil panen buah dari petani yang bibitnya berasal dari Mastanibibit, membangun rantai nilai yang utuh dari bibit hingga buah. Bahkan di desanya sendiri, Burhan kini merintis desa wisata 'Dewa Kebon', sebuah wisata edukasi berkebun buah di Kebonrejo.

Di balik capaian nasional itu, Burhan berharap, inovasi pemuda desa tidak dibiarkan berjalan sendiri. "Fasilitasi perizinan, peningkatan soft skill, pendampingan, itu masih kurang. Padahal potensi desa besar sekali," terangnya. (aya/laz)

Editor : Herpri Kartun
#durian #Mastanibibit #toko online #Pelopor Desa Nasional #bibit pohon