MUNGKID — Suara sirene Early Warning System (EWS) yang menggema di tengah malam membuat ratusan warga Dusun Tanjung, Ngadiharjo, Borobudur, bergegas meninggalkan rumah. Meski hujan, warga berpindah menuju balai ekonomi desa (balkondes) untuk menyelamatkan diri dari ancaman tanah longsor, Kamis (15/1/2026) dini hari.
Sejak pukul 03.00, bangunan itu dipenuhi warga dari berbagai kalangan usia. Mereka masih mengenakan pakaian seadanya. Sebagian dari mereka beristirahat di kamar yang tersedia, ada pula yang bercengkerama di sejumlah titik. Sementara relawan dan aparat desa lalu lalang memastikan kondisi warga tetap aman.
Sekretaris Desa Ngadiharjo Haidar Imama menjelaskan, proses evakuasi dilakukan sebagai langkah mitigasi setelah hujan dengan intensitas cukup tinggi mengguyur wilayah tersebut dan memicu peringatan dini dari EWS. "Saat hujan lebat dan alat itu berbunyi, semua warga mendengarnya. Itu jadi tanda bahwa kondisi tanah berbahaya," ujarnya, Kamis (15/1/2026).
Semula, kata Haidar, pemerintah desa hanya berencana mengevakuasi warga dari tujuh rumah yang dilaporkan terdampak longsor. Namun setelah BPBD Kabupaten Magelang turun ke lapangan dan melakukan asesmen, jumlah warga yang perlu dipindahkan ternyata jauh lebih besar.
Dia menyebut, ada lebih dari 150 jiwa yang harus dievakuasi karena potensi longsor sangat tinggi. Jumlah itu dimungkinkan bakal bertambah. "Proses evakuasi dimulai sekitar pukul 02.30 dan berlangsung hingga pagi," jelas Haidar.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Edi Wasono mencatat, hingga pukul 09.00 sedikitnya ada 154 jiwa yang telah dievakuasi ke Balkondes Ngadiharjo dan jumlah itu masih berpotensi bertambah. "Ini bukan pengungsian, tapi pergeseran sementara. Tujuannya penyelamatan," lontarnya.
Dia menjelaskan, ketika EWS berbunyi akibat hujan intensitas sedang hingga lebat, itu menandakan potensi longsor. "Maka warga yang berada di zona rawan kita geser ke tempat aman," sambungnya.
Menurut Edi, hujan yang turun sejak Rabu siang hingga malam membuat tanah di wilayah Ngadiharjo menjadi jenuh air dan labil. Kondisi tersebut meningkatkan risiko longsor susulan, sehingga langkah cepat harus diambil.
Mitigasi yang dilakukan adalah kesiapsiagaan dan pencegahan. Ketika hasil observasi dinyatakan aman, warga akan kembali ke rumah masing-masing. "Tapi kalau masih berpotensi membahayakan, warga akan diinapkan di balkondes," tegasnya.
Di balkondes, suasana relatif kondusif meski diliputi rasa cemas. Anak-anak terlihat bermain di lingkungan balkondes, sementara para orang tua saling berbagi cerita tentang kondisi rumah mereka.
Beberapa warga lanjut usia tampak mendapat perhatian khusus dari petugas kesehatan. "Tadi ada warga yang sakit, langsung kita pisahkan dan ditangani. Kami sudah berkoordinasi dengan dinas kesehatan, PMI, dan pihak terkait untuk pemeriksaan kesehatan," tuturnya.
BPBD juga telah menyiapkan lokasi alternatif jika kapasitas balkondes tidak lagi mencukupi. Satu di antaranya adalah SD Negeri Ngadiharjo 1, yang telah dikoordinasikan bersama pihak sekolah dan forkopimcam.
Seorang warga, Listiana mengaku, dievakuasi bersama keluarganya sekitar pukul 03.00 dengan bantuan petugas pemadam kebakaran. Sebab rumahnya berada tepat di dekat tebing yang mengalami longsor. "Rumah saya kena longsor. Ya jelas takut, tebingnya tinggi dan dekat sekali dengan rumah," katanya.
Listiana datang ke balkondes bersama tiga anggota keluarganya. Dia mengatakan, hujan yang turun sejak sebelumnya cukup lama dan disertai angin kencang, membuat warga semakin khawatir. "Daripada kenapa-kenapa, ya ke sini saja dulu, biar aman," imbuh dia. (aya)
Editor : Iwa Ikhwanudin