MUNGKID — Rencana penebangan pohon randu oleh pemerintah desa (Pemdes) Tuksongo, Borobudur ditunda. Alasannya tim Pemkab Magelang meminta waktu untuk mempelajari kondisi pohon secara lebih mendalam guna memastikan apakah randu alas tersebut masih dapat diselamatkan. Padahal sudah dilakukan selamatan sebelum penebangan.
Sejak Senin (12/1) pagi, warga bersama pemdes menggelar slametan atau dalam tradisi Jawa dikenal sebagai ingkungan. Kepala Desa Tuksongo M Abdul Karim menyebut, rencana awal penanganan pohon dijadwalkan dimulai sekitar pukul 08.00 setelah selamatan.
Namun, rencana penebangan tersebut untuk sementara ditunda. "Sementara ditunda dulu. Tim dari pak bupati ingin meneliti apakah pohon ini masih bisa diselamatkan. Kalau masih bisa, kemungkinan tidak jadi ditebang, hanya ranting-ranting rapuh yang dibersihkan," ucapnya.
Kepala Bidang Pengkajian Dampak dan Penataan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang Joni Budi Hermanto menyebut, dari hasil pemeriksaan perakaran, cabang, dan bekas potongan, pohon dinilai masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan meski sangat terbatas.
"Kalau dicek secara detail, tanda-tanda kehidupan masih ada, meskipun tipis. Di bagian bawah, di bonggol, masih muncul tunas baru," jelas Joni.
Namun demikian, demi faktor keselamatan pengguna jalan dan wisatawan, DLH merekomendasikan agar cabang-cabang pohon yang rapuh tetap dilakukan perabasan. Setelah itu, kondisi pohon akan dipantau selama tiga hingga empat bulan ke depan.
Setelah perabasan itu masih muncul tunas dan tumbuh dengan baik, berarti pohon masih bisa dipertahankan. "Tapi cabang-cabang yang mengarah ke jalan tetap harus diamankan," tegasnya.
Joni juga meluruskan informasi yang sempat beredar di media sosial terkait keluarnya cairan berwarna merah dari batang pohon randu alas yang disebut-sebut menyerupai darah. Dia memastikan, cairan tersebut bukanlah fenomena mistis.
"Beberapa jenis pohon memang memiliki getah berwarna merah. Randu alas merah ini salah satunya. Itu getah biasa, bukan darah atau kejadian mistis," jelasnya.
Menurut Joni, karakteristik getah merah juga dimiliki sejumlah jenis pohon lain seperti sonokeling dan sengon Jawa. Oleh karena itu, warga diminta tidak terpengaruh isu yang tidak berdasar dan tetap mengedepankan keselamatan serta kajian ilmiah dalam penanganan pohon randu alas tersebut. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo