Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Musim Hujan Panjang Ancam Panen Raya Durian Candimulyo Magelang, Produksi pun Anjlok hingga Sepertiga

Naila Nihayah • Minggu, 11 Januari 2026 | 19:37 WIB

 

 

RAMAI: Pembeli dari berbagai daerah sengaja mampir untuk menjajal buah durian di Candimulyo, Kabupaten Magelang.
RAMAI: Pembeli dari berbagai daerah sengaja mampir untuk menjajal buah durian di Candimulyo, Kabupaten Magelang.

MAGELANG - Musim penghujan yang terjadi sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026 mulai memunculkan kekhawatiran di sentra durian Candimulyo, Kabupaten Magelang.

Curah hujan tinggi tidak hanya menekan jumlah produksi, tetapi juga menurunkan kualitas buah. Kondisi ini memunculkan sinyal potensi gagal panen raya durian pada musim ini.

Di Dusun Mantenan, Desa Giyanti, aktivitas jual beli durian masih berlangsung, namun pasokan terlihat jauh lebih terbatas dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Tumpukan durian di lapak-lapak pedagang tidak lagi menggunung. Sebagian besar buah yang tersedia berukuran lebih kecil dengan tingkat kematangan yang tidak seragam.

Seorang penjual durian setempat, Narti mengutarakan, musim hujan kali ini berdampak signifikan terhadap siklus pertumbuhan durian.

Dia menyebut, banyak pohon durian mengalami gugur daun dan bunga akibat intensitas hujan yang tinggi.

"Sekarang memang berkurang, karena musim hujan. Daunnya pupus (habis), bunganya rontok, jadi buahnya sedikit. Manisnya juga kurang," ujar Narti saat ditemui Radar Jogja di lapaknya, Minggu (11/1).

Menurutnya, dibandingkan musim lalu, produksi durian tahun ini turun drastis. Jika pada tahun-tahun sebelumnya Candimulyo bisa menikmati panen melimpah, kini hasilnya hanya tersisa sekitar sepertiga.

Penurunan produksi ini, lanjut Narti, bukan hanya persoalan kuantitas, tetapi juga kualitas. Curah hujan yang tinggi membuat rasa durian berubah.

Varian rasa yang biasanya dikenal legit, manis-pahit, atau mentega pekat, kini cenderung menjadi 'manis biasa' bahkan tawar.

"Yang biasanya manis legit itu sekarang manisnya biasa. Banyak juga yang anyep (hambar)," ujarnya.

Dia menjelaskan, hujan dan angin kencang juga menyebabkan banyak buah jatuh sebelum mencapai tingkat kematangan optimal.

Durian yang belum siap panen terpaksa dipungut karena jatuh dari pohon, meskipun belum sepenuhnya matang.

Dampak lain yang cukup merugikan pedagang adalah meningkatnya persentase buah rusak. Narti menyebut, dari setiap 100 buah durian yang dijual, ada sekitar 30 butir dinilai tidak layak konsumsi karena rasanya hambar.

"Sekarang rusaknya banyak. Misal dari 100 buah, bisa 30 yang ndak enak," tutur Narti.

Kondisi ini, lanjut dia, membuat potensi panen raya yang biasanya dinanti pada puncak musim, kian sulit terwujud.

Berdasarkan pengalamannya, musim durian Candimulyo umumnya berlangsung dari awal Desember hingga akhir Februari.

Namun tahun ini panen bergeser dan cenderung mundur. Dengan kondisi cuaca yang masih didominasi hujan, Narti menilai, peluang terjadinya panen raya pada musim ini sangat kecil.

"Biasanya sebelum Desember sudah mulai panen. Sekarang ini Desember akhir belum mulai, baru pertengahan Desember," jelasnya.

Menurunnya, produksi praktis berimbas pada pasokan pasar dan harga. Ketersediaan durian yang terbatas mendorong harga naik cukup signifikan.

Durian ukuran kecil yang biasanya dijual sekitar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per buah, kini sulit ditemukan. "Barangnya kurang, tapi yang beli banyak. Jadi harganya naik," ungkap Narti.

Durian kualitas menengah hingga besar kini dibanderol di kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per buah, bahkan lebih, tergantung kualitas dan jenisnya. Meski demikian, minat pembeli tidak surut.

Untuk menjaga kepercayaan konsumen di tengah fluktuasi kualitas, Narti mengaku tetap selektif dalam memilih durian yang dijual.

Dia memastikan hanya buah yang masih layak dan sesuai permintaan pembeli yang dipasarkan.

"Yang mau mentega, yang manis pahit, tetap saya carikan. Orang-orang percaya sama pilihan saya," lontarnya.

Namun, dalam kondisi cuaca lembap dan pasokan terbatas, dia tidak menerapkan perlakuan khusus dalam penyimpanan durian. Buah tetap disimpan secara konvensional, seperti musim-musim sebelumnya.

Fenomena yang terjadi di Candimulyo ini disebut Narti juga dialami sejumlah daerah penghasil durian lainnya.

Artinya, tekanan musim hujan terhadap produksi durian bersifat merata dan berpotensi memengaruhi pasokan regional. "Di beberapa daerah juga sama," ujarnya singkat.

Dengan cuaca yang belum menunjukkan perbaikan signifikan, pelaku usaha durian kini hanya berharap sisa musim panen dapat berjalan stabil tanpa penurunan kualitas lebih lanjut. (aya/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#panen raya durian #durian #Candimulyo #Magelang #durian candimulyo #hambar #penjual durian #Gagal Panen #durian mentega #legit